Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Agustus 2015

SEPUTAR PUASA RAMADHAN (2)

0 komentar
SEPUTAR PUASA RAMADHAN (2)

بسم الله الرحمن الرحيم

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bersabda,
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ ِللهِ حَاجَةٌ اَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ (رواه الجماعة واللفظ للبخاري)

Dari Abu Hurairoh, dari nabi saw., bersabda :" barang siapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta serta bertindak bodoh, maka bagi Alloh tidak ada gunanya meninggalkan makan dan minum. (HR. Jama'ah ahli Hadits, sedangkan lafadznya Bukhari).

Hal-hal Yang Harus Dihindari oleh Orang Yang Sedang Berpuasa.
Orang yang sedang berpuasa hendaklah menghindari berkata dusta, jorok dan tindakan bodoh, berbuat gaduh, bertengkar, berkumur-kumur atau istinsyak (memasukan air ke hidung ketika berwudu) secara berlebih-lebihan. Sebagaimana yang disebutkan pada hadits di atas.
Read More ->>

Sabtu, 28 Maret 2015

AT-TAYAMMUN (BERKANAN)

0 komentar
AT-TAYAMMUN (BERKANAN)

كَانَتْ يَدُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ الْيُمْنَى لِطُهُوْرِهِ وَ طَعَامِهِ وَ كَانَتْ يَدَهُ الْيُسْرَى لِخَلاَئِهِ وَمَا كَانَ مِنْ أَذًى

Pada hadts ini Aisyah radliyallahu ‘anhaa menuturkan : “Tangan kanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dipergunakan dalam bersuci dan  makan. Adapun tangan kiri, diguakkan untuk membersihkan bekas kotoran dari buang hajat dan perkara-perkara yang najis (HR. Abu Dawud)
Imam an-Nawawi berkata:
“Disunahkan menggunakan tangan kanan dalam perkara-perkara yang mengandung segi kemuliaan, dan sebaliknya, menggunakan tangan kiri dalam perkara yang mengandug kejelekan”

Dalam hal apa sajakah kita menggunakan angan kanan atau mendahuklukan anggota tubuh sebelah kanan?

Pada kesemopata ini kita akan membahas hal tersebut berdasarkan hadits:
Read More ->>

Jumat, 27 Maret 2015

CINTA DAN KASIH SAYANG DALAM RUMAH TANGGA(4)

0 komentar
CINTA DAN KASIH SAYANG DALAM RUMAH TANGGA(4)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِى؟ قَالَ : أُمُّكَ . قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ : ثُمَّ أُمُّكَ . قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ :ثُمَّ أُمُّكَ . قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ : ثُمَّ أَبُوكَ .
Dari Abu Hurairah -radliyallahu ‘anhu- ia berkata: Datanglah seorang laki-laki kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- lalu bertanya: "Siapakah di antara manusia yang paling berhak menerima persahabatan baikku?" Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: "Ibumu." Lalu orang tersebut bertanya: "Kemudian siapa?" Beliau menjawab: "Ibumu." Lalu orang itu bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Kemudian orang itu bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Bapakmu.” (Muttafaq ‘Alaih)

Kalau ditanyakan, siapakah yang lebih berhak menerima balasan kebaikan dari anaknya? Dalam hadits tersebut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengucapkan bahwa orang yang paling berhak menerima kebaikkan dari anak adalah ibu, kemudian bapak. Yang demikian itu karena susah payah yang diderita ibu lebih besar dari bapak dalam pengasuhan anak.
Dalam ayat lain Allah menegaskan bahwa haram bagi anak mengucapkan kata-kata kasar, sekalipun hanya mengucapkan “ah”
“. . . jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan pada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membantah keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (al-Isra’:23)
Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah “Wahai Tuhanku sayangilah keduanya, karena mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (al-Isra’: 24)
Dalam hadits lain diungkapkan sebagai berikut:
عن عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرٍو ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَاسْتَأْذَنَهُ فِي الْجِهَادِ فَقَالَ أَحَىٌّ وَالِدَاكَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr -radliyallahu  ‘anhu-  ia berkata:
Datanglah seorang laki-laki kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, lalu memohon izin kepada Nabi untuk ikut berjihad. Lalu Nabi bertanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Ia menjawab: “Masih”. Kemudian Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Maka berjihadlah dengan berbakti kepada kedua orang tuamu.” (H.R. al-Bukhari)
Hadits di atas mengisyaratkan bahwa berbakti kepada orang tua lebih tinggi nilainya daripada berperang.
Kewajiban berbakti kepada kedua orang tua ditegaskan pula pasda surah an-Nisa’: 36
Dan sembahlah Allah  dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu . . .”

Pada ayat tersebut, perintah berbakti kepada kedua orang tua diletakkan sesudah larangan mempersekutukan Allah dengan selain-Nya. Ini menunjukkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua pahalanya sangat tinggi di bawah nilai mentauhidkan Allah Ta’ala, dan sebaliknya memusuhi kedua orang tua dosanya sangat besar, di bawah dosa berbuat syirik.
Insya Allah, apabila cinta dan kasih sayang antara suami dan istri, antara anak dan orang tua selalu terpelihara, maka tidak akan terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan dalam rumah tangga itu terjadi karena tidak terpeliharanya cinta dan kasih sayang.
Wallahu a’lam
Oleh: Ayiqien Humam   
Read More ->>

Jumat, 31 Oktober 2014

PUASA TASU'A DAN 'ASYURA, 9 DAN 10 MUHARRAM 1436H, KEUTAMAAN DAN WAKTUNYA

0 komentar
MARI BERPUASA ASYURA DAN TASU’A, YAKNI TANGGAL 9 DAN 10 MUHARAAM YANG BERTEPATAN PADA HARI AHAD DAN SENIN TANGGAL  2 DAN 3 NOVEMBER 2014,

قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ : يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim dari Abu Qatadah al-Anshari-ra-) 
Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya dia berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di hari ‘Asyura’ dan memerintahkan manusia untuk berpuasa, para sahabat pun berkata, "Ya Rasulullah! Sesungguhnya hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani." Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, "Pada tahun depan -insya Allah- kita akan berpuasa tanggal 9nya (Muharram) pula.’ Belum sempat tahun depan tersebut datang, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal. (HR.Muslim)
Apabila tidak bisa berpuasa pada tanggal 9 Muharramnya maka tidak mengapa hanya berpuasa pada tanggal 10nya saja. Akan tetapi lebih utama bila dilakukan keduannya. Wallahu a’lam


Read More ->>

Recent Comments

HADIRILAH KAJIAN RUTIN

1. Pengajian Pagi Ahad ke-1 dan ke-5 di Balai Dakwah Muhammadiyah Kaliwungu, Jln. Sekopek-Plantaran no.12, Kaliwungu, Kendal.

2. Pengajian Pagi Ahad ke 2 di PAY Putri Hj Rumiatun, Sarirejo, Kaliwungu(Belakang Koramil Kaliwungu).

3. Pengajian Pagi Ahad ke-3 di PAY Hj Siti Rohmah, Kumpulrejo, Kaliwungu.

4. Pengajian Pagi Ahad ke 4 di Ponpes Al Manar Sawah jati Krajan kulon, Kaliwungu.

Pengajian dimulai pukul 06.00-07.00

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ :

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

رَوَاهُ مُسْلِم عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Barang siapa menumpuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.(HR. Muslim dari Abu Hurairah)

 

| MDM (Mimbar Dakwah Muhammadiyah) Kaliwungu © 2009. All Rights Reserved | Template Style by My Blogger Tricks .com | Design by Brian Gardner | Back To Top |