Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Agustus 2015

SEPUTAR PUASA RAMADHAN (2)

0 komentar
SEPUTAR PUASA RAMADHAN (2)

بسم الله الرحمن الرحيم

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bersabda,
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ ِللهِ حَاجَةٌ اَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ (رواه الجماعة واللفظ للبخاري)

Dari Abu Hurairoh, dari nabi saw., bersabda :" barang siapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta serta bertindak bodoh, maka bagi Alloh tidak ada gunanya meninggalkan makan dan minum. (HR. Jama'ah ahli Hadits, sedangkan lafadznya Bukhari).

Hal-hal Yang Harus Dihindari oleh Orang Yang Sedang Berpuasa.
Orang yang sedang berpuasa hendaklah menghindari berkata dusta, jorok dan tindakan bodoh, berbuat gaduh, bertengkar, berkumur-kumur atau istinsyak (memasukan air ke hidung ketika berwudu) secara berlebih-lebihan. Sebagaimana yang disebutkan pada hadits di atas.
Read More ->>

Senin, 10 Agustus 2015

AMALAN HARIAN MUSLIM

0 komentar
AMALAN HARIAN MUSLIM

بسم الله الرحمن الرحيم
وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.(al-’Ashr : 1-3)

Surat ini menerangkan banyak hal. Ia menerangkan tentang hakikat kerugian dan keberuntungan. Surat ini pun menerangkan pula tentang orang beriman yang beramal sholih, tentang dakwah, tentang kebenaran dan kesabaran

Surat ini menerangkan pula bahwa semua manusia pasti akan berada dalam keadaan merugi  apabila mereka tidak mengisi waktunya dengan amalan-amalan sholih.
Read More ->>

Sabtu, 08 Agustus 2015

KEDUDUKAN ILMU DALAM ISLAM

0 komentar
KEDUDUKAN ILMU DALAM ISLAM

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Al-Mujaadalah 58::11)

Ilmu dalam tinjauan materiil ataupun moril dalam Islam menepati kedudukan yang sangat urgen, yakni menjadi penentu dalam pengamalan Agama Islam.
Read More ->>

Sabtu, 11 April 2015

TAUBAT 2

0 komentar
TAUBAT 2

.....وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“...Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (an-Nur 24: 31)

Allah Ta’ala Maha Penerima taubat. Betapapun besarnya dosa seorang manusia, apabila dia bertaubat Allah pasti mengampuninya. Tdak ada istilah terlambat untuk kembali kepada jalan kebenaran,kecuali kalau nyawa sudah berada di tenggorokan atau matahari sudah terbit dari barat, maka pintu taubat memang sudah ditutup. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhya Allah membentangkan tangan-Nya pada waktu malam supaya bertaubat orang yang berbuat salah siang hari. Dan Dia membentangkan tangan-Nya pada siang hari, supaya bertaubat orang yang berbuat salah malam hari. Keadaan itu tetap terus hingga matahari terbit dari barat.”(HR.Muslim)
Read More ->>

Jumat, 03 April 2015

TAUBAT 1

0 komentar
TAUBAT

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu". (at-Tahrim 66: 8)

Taubat berakar dari kata taaba yang berarti kembali. Orang yang bertaubat kepada Allah Ta’ala adalah orang yang kembali dari sesuatu menuju sesuatu; kembali dari sifat-sifat yang tercela menuju sifat-sifat yang terpuji, kembali dari larangan Allah menuju perintah-Nya, kembali dari segala yang dibenci Allah menuju yang diridhai-Nya, kembali dari yang saling bertentangan menuju yang saling menyenangkan, kembali kepada Allah setelah meninggalkan-Nya dan kembali taat setelah menentang-Nya.
Read More ->>

Sabtu, 28 Maret 2015

ADAB DI PASAR

0 komentar
ADAB DI PASAR

1.      Hendaknya berdzikir kepada Allah di saat masuk ke pasar, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang masuk ke pasar lalu membaca: “(Tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah kerajaan, dan kepunyaan-Nyalah segala pujian, Dia yang menghidupkan dan yang mematikan, dan Dia Maha Hidup tidak akan mati; di tangan-Nyalah segala kebaikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu), maka Allah mencatat sejuta kebajikan baginya, dan menghapus sejuta dosa darinya, dan Dia tinggikan baginya sejuta derajat dan Dia bangunkan satu istana baginya di dalam surga”. (HR. Ahmad dan At-Turmudzi, di nilai hasan oleh Al-Albani).
Read More ->>

ADAB BERTETANGGA

0 komentar
ADAB BERTETANGGA

Sesungguhnya Islam benar-benar menaruh perhatian yang sangat besar kepada manusia di dalam segala urusan agama dan dunianya, Tidak ada perkara kecil ataupun besar yang tidak dijelaskan oleh Islam.
Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam telah menggoreskan untuk kita melalui ucapan dan perbuatannya, rambu-rambu etika yang harus ditempuh oleh setiap mu'min di dalam hidupnya. Melalui kepribadiannya yang mulia, Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam telah menjelaskan kepada kita contoh etika yang seharusnya ditiru. Maka barang siapa yang menghendaki kebahagiaan, hendaklah ia menempuh jalan hidup Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam dan meneladani etikanya.
Kebanyakan orang pada akhir-akhir ini mulai mengabaikan etika- etika dalam bertetangga bahkan mungkin banyak orang yang belum mengetahui eika tersebut. Oleh karena itu wajib bagi setiap muslim untuk salingmenasehat dan saling mengingatkan tentang etika tersebut.
Adapun etika bertetangga yang telah dituntunkan Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut :
Read More ->>

BERSABAR DAN BERSYUKUR

0 komentar
BERSABAR DAN BERSYUKUR

الم (١) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (٢) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (٣)

Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (al-Ankabut: 1-3)
Kehidupan ini tidak terlepas dari cobaan dan ujian. Tidak ada seorang pun yang terlahir ke dunia tanpa mengalami ujian sedikit pun.


Seseorang yang kaya dan berharta, ia Allah uji dengan kekayaannya, apakah ia bersyukur atau malah kufur. Seseorang yang hidup dalam keadaan kurang, maka tidak diragukan lagi ini adalah cobaan kehidupan. Allah uji orang tersebut apakah ia bersabar atau malah menempuh cara-cara yang Allah haramkan demi terbebas dari kemiskinan.
Read More ->>

IMAN DAN HAKEKATNYA

0 komentar
IMAN DAN HAKEKATNYA

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS. Al-Anfal : 2)
Iman secara bahasa berasal dari kata amana-yu’minu-imaanan, artinya pembenaran (tashdiqan). Sedang secara istilah iman berarti membenarkan apa-apa yang datang dari Allah, yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Fatkhul-Bari, 1/46).

Istilah umum yang sering digunakan dalam mengartikan iman adalah keyakinan di dalam hati, pengucapkan dengan lisan dan pengamalan dengan anggota badan. Sedangkan dalam istilah akidah kata iman dimaksudkan kepada pengertian beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kepada kitab-Nya, kepada Rasul-Nya, kepada hari akhir dan kepada qadha dan qadar yang baik dan yang buruk.

Read More ->>

AT-TAYAMMUN (BERKANAN)

0 komentar
AT-TAYAMMUN (BERKANAN)

كَانَتْ يَدُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ الْيُمْنَى لِطُهُوْرِهِ وَ طَعَامِهِ وَ كَانَتْ يَدَهُ الْيُسْرَى لِخَلاَئِهِ وَمَا كَانَ مِنْ أَذًى

Pada hadts ini Aisyah radliyallahu ‘anhaa menuturkan : “Tangan kanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dipergunakan dalam bersuci dan  makan. Adapun tangan kiri, diguakkan untuk membersihkan bekas kotoran dari buang hajat dan perkara-perkara yang najis (HR. Abu Dawud)
Imam an-Nawawi berkata:
“Disunahkan menggunakan tangan kanan dalam perkara-perkara yang mengandung segi kemuliaan, dan sebaliknya, menggunakan tangan kiri dalam perkara yang mengandug kejelekan”

Dalam hal apa sajakah kita menggunakan angan kanan atau mendahuklukan anggota tubuh sebelah kanan?

Pada kesemopata ini kita akan membahas hal tersebut berdasarkan hadits:
Read More ->>

ADAB DI MASJID

0 komentar
ADAB DI MASJID

1.      Berdo`a di saat pergi ke masjid. Berdasarkan hadits Ibnu Abbas -Radhiallaahu ‘anhu- beliau menyebutkan: Adalah Rasulullah -Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam- apabila ia keluar (rumah) pergi shalat (di masjid) berdo`a : "Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, dan cahaya pada lisanku, dan jadikanlah cahaya pada pendengaranku dan cahaya pada penglihatanku, dan jadikanlah cahaya dari belakangku, dan cahaya dari depanku, dan jadikanlah cahaya dari atasku dan cahaya dari bawahku. Ya Allah, anugerahilah aku cahaya". (Muttafaq'alaih).

2.       Berjalan menuju masjid untuk shalat dengan tenang dan khidmat. Rasulullah -Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam- telah bersabda: "Apabila shalat telah diiqamatkan, maka janganlah kamu datang menujunya dengan berlari, tetapi datanglah kepadanya dengan berjalan dan memperhatikan ketenangan. Maka apa (bagian shalat) yang kamu dapati ikutilah dan yang tertinggal sempurnakanlah. (Muttafaq'alaih).
Read More ->>

Jumat, 27 Maret 2015

ISLAM KAFFAH

0 komentar
ISLAM KAFFAH

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ [البقرة : 208]

Hai orang-rang yang beriman masuklah kedalam Islam secara totalitas (keseluruhan), dan janganah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Seungguhnya setan adalah musuh nyata bagi kalian.” (al-Baqarah : 208)

Dalam ayat ini Allah memerintahkan hamba  yang beriman kepada-Nya dan mempercayai Rasul-Nya untuk mengambil secara keseluruhan syariat Islam, mengamalkan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya semaksimal mungkin. (Tafsir Ibnu Katsir)

Syeikh As-Sa’di menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan perintahAllah kepada orang-orang beriman agar masuk kedalam Islam secara totalitas (keseluruhan), yaitu mengamalkan semua syariat Islam dan tidak meninggalkannya sedikit pun,dan hendaknya tidak menuhankan hawa nafsu dengan hanya mau melaksanakan syariat yang bersesuaian dengan hawa nafsunya. Namun apabila syariat tersebut tidak sesuai dengan hawa nafsunya, syariat tersebut ditinggalkan.
Read More ->>

ADAB TIDUR DAN BANGUN TIDUR

0 komentar
ADAB TIDUR DAN BANGUN TIDUR

1. Berinstropeksi diri (muhasabah) sesaat sebelum tidur. Sangat dianjurkan sekali bagi setiap muslim bermuhasabah sesaat sebelum tidur, untuk megevaluasi segala perbuatan yang telah ia lakukan di siang hari. Lalu jika ia dapatkan perbuatannya baik maka hendaknya memuji pada Allah Ta’ala dan jika sebaliknya maka hendaknya segera memohon apunan-Nya, kembali dan bertaubat kepada-Nya.

2. Tidur dini, berdasarkan hadis dari Aisyah -RadliyAllahu ‘anha-: Bahwasannya Rasulullah -Shallalahu ‘alaihi wa sallam- tidur pada awal malam dan bangun pada penghujung malam, lalu beliau melakukan shalat ( Muttafaq ‘alaih)
3. Disunahkan berwudlu sebelum tidur, dan berbaring miring sebelah kanan.
Al-Bara’ bin ‘Azib -radliyAllahu ‘anhu- menuturkan : Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda : “Apa bila kamu akan tidur, maka berwudlulah sebagaimana wudlu untuk shalat, kemudian berbaring  mirilah sebelah kanan..” dan tidak mengapa berbaring sebelah kiri nantinya.

4. Disunahkan mengibaskan sprei tiga kali sebelum berbaring, berdasarkan hadis dari Abu Hurairah -radliyAllahu ‘anhu- bahwasannya Rasulullah -Shallallhu ‘alaihi wa sallam- bersabda : Apabila seseorang diantara kamu akan tidur pada tempat tidurnya, maka hendaklah mengibaskan kainnya pada tempat tidurnya itu terlebih dahulu, karena ia tdak tahu apa yang ada di atasnya...” di dalam satu riwayat dikatakan: “tiga kali”.(Muttafaq ‘Alaihi)

5. Makruh tidur tengkurap. Abu Dzar -radliyAllahu ‘anhu- menuturkan : Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah lewat melintasi aku, dikala itu aku sedang berbaring tengkurap. Maka Nabi membangunkanku dengan kakinya sambil bersabda : “wahai Junaidab (panggilan Abu Dzar), sesungguhnya berbaring seperti ini (tengkurap) adaah cara berbaringnya penghuni neraka”. (HR. Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh al-Albani)

6. Makruh tidur di atas dak terbuka, berdasarkan hadis yang bersumber dari ‘Ali bin Syaibah disebutkan bahwasannya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda : “Barangsiapa yang tidur malam di atas atap rumah yang tidak ada penutupnya maka hilanglah jamian darinya.” (HR. Al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad dan dinilai shahih oleh al-Albani).

7. Menutup pintu, jendela dan memadamkan api dan lampu sebelum tidur. Dari Jabir -radliyAllahu ‘anhu- diriwayatkan bahwa sesungguhnya Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda : “Padamkanlah lampu di malam hari apabila kamu akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana, dan tutuplah makanan dan minuman.” (Muttafaq ‘alaihi)
8. Membaca ayat Kursi, dua ayat terakhir dari surah al-Baqarah, surah al-Ikhlas dan al-Mu’awwidzatain (al-Falaq dan al-Nas), karena banyak hadis shahih yang mengganjurkan hal tersebut.

9. Membaca doa-doa dan dzikir yang keterangannya shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti :

اللَّهُمَّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ
Allahumma qinii ‘adzaabaka yauma tab’atsu ‘ibaadak

“Ya Allah peliharalah aku dari azab-Mu pada hari Engkau membangkitkan kembali segenap hamba-hamba-Mu”. Dibaca tiga kali (HR. Abu Daud dan dihasankan oleh al-Albani)
Dan membaca :
بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَ أَحْيَا
Bismika Allahumma amuutu wa ahyaa

“Dengan menyebut nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup”(HR. Al-Bukhari)

10. Apabila di saat tidur merasa kaget atau gelisah atau merasa ketakutan, maka disunahkan (diajurkan) berdoa, dengan doa

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَ شَرِّ عِبَادِهِ وَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ وَ أَنْ يَحْضُرُوْنِ

A’udzu bikalimaatillahit-taammaat min ghadlabihi wa syarri ‘ibaadihi wa min hamazaathisy-syayaathin wa an yahdluruun
“Aku berlindung dengan Kalimatullah yang sempurna dari murkaNya, kkejahatan hamba-hambaNya, dari gangguan setan dan kehadiran mereka padaku”. (HR. Abu Daud dan dihasankan oleh al-Albani)

11. Hendaknya apabila bangun tidur membaca :

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَ إِلَيْهِ النُّشُوْرُ

Alhamdulillahil-ladzi ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaihin-nusyuur
“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikanNya, dan kepadaNya-lah kami dikembalikan”. (HR. Al-Bukhari). Wallahu a’lam.
Adab-adab  ini diambil dari buku Etika Seorang Muslim, Departemen Ilmiah Darul Wathan, Jakarta : Dar al-Haq, 2005, Tarjamah dari Adab al-Muslim fi al-Yaum wa al-Lailah oleh : Musthafa Aini, Lc





Read More ->>

ADAB MAKAN DAN MINUM

0 komentar
Serial Adab :
ADAB MAKAN DAN MINUM

1. Berupaya untuk mencari makanan yang halal. Allah Subhanahu wata'ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu”. (Al-Baqarah: 172). Yang baik disini artinya adalah yang halal.

2. Hendaklah makan dan minum yang kita lakukan diniatkan agar bisa dapat beribadah kepada Allah, agar kita mendapat pahala dari makan dan minum itu.

3. Hendaknya mencuci tangan sebelum makan jika tangan kita kotor, dan begitu juga setelah makan untuk menghilangkan bekas makanan yang ada di tangan.

4. Hendaklah kita puas dan rela dengan makanan dan minuman yang ada, dan jangan sekali-kali mencelanya. Abu Hurairah –ra-menuturkan: 
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam sama sekali tidak pernah mencela makanan. Apabila suka sesuatu ia makan dan jika tidak, maka ia tinggalkan”. (Muttafaq’alaih).

5. Hendaknya jangan makan sambil bersandar atau dalam keadaan menyungkur.Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda; “Aku tidak makan sedangkan aku menyandar”. (HR. al-Bukhari). Dan di dalam hadits, Ibnu Umar Radhiallaahu anhu menuturkan: “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah melarang dua tempat makan, yaitu duduk di meja tempat minum khamar dan makan sambil menyungkur”. (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albani).

6. Tidak makan dan minum dengan menggunakan bejana terbuat dari emas dan perak. Di dalam hadits Hudzaifah dinyatakan di antaranya bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “... dan janganlah kamu minum dengan menggunakan bejana terbuat dari emas dan perak, dan jangan pula kamu makan dengan piring yang   terbuat darinya, karena keduanya untuk mereka (orang kafir) di dunia dan untuk kita di akhirat kelak”. (Muttafaq’alaih).

7.    Hendaknya memulai makanan dan minuman dengan membaca Bismillah dan diakhiri dengan Alhamdulillah.Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seorang diantara kamu makan, hendaklah menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta'ala dan jika lupa menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta'ala pada awalnya maka hendaknya mengatakan : Bismillahi awwalihi wa akhirihi”. (HR. Abu ). Adapun meng-akhirinya dengan Hamdalah, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah sangat meridhai seorang hamba yang apabila telah makan suatu makanan ia memuji-Nya dan apabila minum minuman ia pun memuji-Nya”. (HR. Muslim).

8. Hendaknya makan dengan tangan kanan dan dimulai dari yang ada di depanmu. Rasulllah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda Kepada Umar bin Salamah: “Wahai anak, sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah apa yang di depanmu. (Muttafaq’alaih).

9. Disunnatkan makan dengan tiga jari dan menjilati jari-jari itu sesudahnya. Diriwayatkan dari Ka`ab bin Malik dari ayahnya, ia menuturkan: “Adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam makan dengan tiga jari dan ia menjilatinya sebelum mengelapnya”. (HR. Muslim).

10. Disunnatkan mengambil makanan yang terjatuh dan membuang bagian yang kotor darinya lalu memakannya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila suapan makan seorang kamu jatuh hendaklah ia mengambilnya dan membuang bagian yang kotor, lalu makanlah ia dan jangan membiarkannya untuk syetan”. (HR. Muslim).

11. Tidak meniup makan yang masih panas atau bernafas di saat minum. Hadits Ibnu Abbas menuturkan “Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang bernafas pada bejana minuman atau meniupnya”. (HR. At-Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

12. Tidak berlebih-lebihan di dalam makan dan minum. Karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Tiada tempat yang yang lebih buruk yang dipenuhi oleh seseorang daripada perutnya, cukuplah bagi seseorang beberapa suap saja untuk menegakkan tulang punggungnya; jikapun terpaksa, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minu-mannya dan sepertiga lagi untuk bernafas”. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).

13. Jangan sekali-kali kita melakukan perbuatan yang orang lain bisa merasa jijik, seperti mengirapkan tangan di bejana, atau kita mendekatkan kepala kepada tempat makanan di saat makan, atau berbicara dengan nada-nada yang mengandung makna kotor dan menjijik-kan.

14. Jangan minum langsung dari bibir bejana, berdasarkan hadits Ibnu Abbas beliau berkata, “Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang minum dari bibir bejana wadah air.” (HR. Al Bukhari)
Wallahu a’lam bish shawab.



Read More ->>

CINTA DAN KASIH SAYANG DALAM RUMAH TANGGA(4)

0 komentar
CINTA DAN KASIH SAYANG DALAM RUMAH TANGGA(4)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِى؟ قَالَ : أُمُّكَ . قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ : ثُمَّ أُمُّكَ . قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ :ثُمَّ أُمُّكَ . قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ : ثُمَّ أَبُوكَ .
Dari Abu Hurairah -radliyallahu ‘anhu- ia berkata: Datanglah seorang laki-laki kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- lalu bertanya: "Siapakah di antara manusia yang paling berhak menerima persahabatan baikku?" Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: "Ibumu." Lalu orang tersebut bertanya: "Kemudian siapa?" Beliau menjawab: "Ibumu." Lalu orang itu bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Kemudian orang itu bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Bapakmu.” (Muttafaq ‘Alaih)

Kalau ditanyakan, siapakah yang lebih berhak menerima balasan kebaikan dari anaknya? Dalam hadits tersebut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengucapkan bahwa orang yang paling berhak menerima kebaikkan dari anak adalah ibu, kemudian bapak. Yang demikian itu karena susah payah yang diderita ibu lebih besar dari bapak dalam pengasuhan anak.
Dalam ayat lain Allah menegaskan bahwa haram bagi anak mengucapkan kata-kata kasar, sekalipun hanya mengucapkan “ah”
“. . . jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan pada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membantah keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (al-Isra’:23)
Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah “Wahai Tuhanku sayangilah keduanya, karena mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (al-Isra’: 24)
Dalam hadits lain diungkapkan sebagai berikut:
عن عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرٍو ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَاسْتَأْذَنَهُ فِي الْجِهَادِ فَقَالَ أَحَىٌّ وَالِدَاكَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr -radliyallahu  ‘anhu-  ia berkata:
Datanglah seorang laki-laki kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, lalu memohon izin kepada Nabi untuk ikut berjihad. Lalu Nabi bertanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Ia menjawab: “Masih”. Kemudian Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Maka berjihadlah dengan berbakti kepada kedua orang tuamu.” (H.R. al-Bukhari)
Hadits di atas mengisyaratkan bahwa berbakti kepada orang tua lebih tinggi nilainya daripada berperang.
Kewajiban berbakti kepada kedua orang tua ditegaskan pula pasda surah an-Nisa’: 36
Dan sembahlah Allah  dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu . . .”

Pada ayat tersebut, perintah berbakti kepada kedua orang tua diletakkan sesudah larangan mempersekutukan Allah dengan selain-Nya. Ini menunjukkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua pahalanya sangat tinggi di bawah nilai mentauhidkan Allah Ta’ala, dan sebaliknya memusuhi kedua orang tua dosanya sangat besar, di bawah dosa berbuat syirik.
Insya Allah, apabila cinta dan kasih sayang antara suami dan istri, antara anak dan orang tua selalu terpelihara, maka tidak akan terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan dalam rumah tangga itu terjadi karena tidak terpeliharanya cinta dan kasih sayang.
Wallahu a’lam
Oleh: Ayiqien Humam   
Read More ->>

Cita dan Kasih Sayang dalam Rumah Tangga 3

0 komentar
Cita dan Kasih Sayang dalam Rumah Tangga 3

Pada ayat pertama (ar-Rum : 21) telah dijelaskan bahwa cinta dan kasih sayang, sebagai rahmat dari Allah SWT, merupakan faktor yang sangat besar pengaruhnya bagi terciptanya ketenangan dan ketentraman dalam rumah tangga, sehingga tidak terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Sedangkan kekerasan dalam rumah tangga merupakan faktor utama tumbuhnya ketidaktenangan dan ketidaktentraman, baik dalam rumah tangga maupun masyarakat maka dalam surah al-An’am : 140 Allah menegaskan sebagai berikut:

“Sungguh rugi mereka yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan mereka, tanpa pengetahuan, dan mengharamkan rizki yang dikaruniakan Allah kepada mereka dengan semata-mata membuat kebodohan terhadap Allah. Sungguh mereka telah sesat dan tidak mendapat petunjuk.” (al-An’am: 140)

Pada ayat sebelumnya, Allah menjelaskan bahwa syetan-syetan telah menjerumuskan kaum musyrikin sehingga merasa indah jika telah membunuh anak-anak mereka. Maka keadaan rumah tangga mereka menjadi kacau balau, tidak tenang dan tidak tentram. Mereka mengharamkan segala  yang dihalalkan oleh Allah SWT,seperti menganiaya istri dan mebunuh anak-anak, karena kebodohan mereka atau karena khawatir miskin. Untuk menghindari munculnya kekerasan dalam rumah tangga, maka harus ditanamkan dalam diri mereka rasa cinta dan kasih sayang dengan memberikan nasehat, pendidikan agama dan akhlak, sebagaimana ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketka ia memberi pelajaran kepadanya: “Wahai anakku janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah benar-benar kedzaliman yang besar.” (Luqman: 13)

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuannya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadan lemah dan bertambah lemah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada–Ku dan kepada kedua orangtuamu. Hanya kepada-Ku kembalimu.” (Luqman: 14)

Pada ayat sebelumnya dijelaskan, bahwa Allah SWT memberi hikmah kepada Luqman agar bersyukur kepada Allah, sebab orang yang bersyukur kepada-Nya pada hakikatnya bersyukur untuk dirinya sendiri, sedang yang tidak bersyukur kepada-Nya tidak akan diperhatikan Allah SWT.

Kemudian pada ayat ini (Luqman: 13-14) Allah SWT  menjelaskan bahwa Luqman telah melaksanakan perintah Allah, yaitu melarang mempersekutuan Allah, dan memerintahkan kepada anaknya untuk mentauhidkan Allah, yaitu hanya menyembah dan mengagungkan Allah semata. Apabila manusia telah benar-benar bertauhid, maka dengan sendirinya mereka akan bersatu, karena keyakinan mereka telah bersatu, tetapi apabila mereka mempersekutukan Allah dengan selain-Nya, maka manusia akan terpecah belah, demikian pula masyartakat. Untuk menciptakan rumah tangga yang penuh dengan rasa cinta dan kasih sayang, maka harus dibina lebih dahulu ketauhidan pada setiap anggota keluarga,dan juga keyakinan bahwa tidak ada tuhan yang pantas disembah selain Allah SWT. dengan demikian maka dengan sendirinya akan tubuh rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka. Yang tua menyayangi yang muda dan yang muda menghormati yang tua.

Maka pada ayat berikutya (Luqman: 14) Allah memerintahkan kepada manusia agar berbakti kepada kedua orang tua, sebab kedua orang tua itulah yang mengasuh dan mendidiknya. Berbakti kepada kedua orang tua adalah bagian dari ibadah, di samping sebagai balas budi dan rasa terima kasih kepada keduanya. Pada ayat tersebut ditegaskan bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah suatu kewajiban, terutama kepada ibunya sebab ibunya yang telah mengandungnya dengan susah payah yang terus bertambah. Dari bulan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya hingga melahirkannya sebagai puncak kesusahannya. Ketika itulah ibu berserah diri kepada Allah tentang keselamatannya dari anak yawng akan dilahirkannya sebab melahirkan anak sama dengan bertaruh nyawa, mati atau hidup. Perlu diketahui bahwa hingga kini jumlah kematian ibu karena melahirkan anak masih tinggi.


Sesudah melahirkan anak bukan berarti telah selesai urusannya, melainkan masih panjang dan banyak pekerjaan yang harus dikerjakan. Kedua orang tua masih harus mengasuh, mendidik dan membesarkannya. Wallahu Ta'ala A'lam

by. Asiqien Humam  
Read More ->>

Recent Comments

HADIRILAH KAJIAN RUTIN

1. Pengajian Pagi Ahad ke-1 dan ke-5 di Balai Dakwah Muhammadiyah Kaliwungu, Jln. Sekopek-Plantaran no.12, Kaliwungu, Kendal.

2. Pengajian Pagi Ahad ke 2 di PAY Putri Hj Rumiatun, Sarirejo, Kaliwungu(Belakang Koramil Kaliwungu).

3. Pengajian Pagi Ahad ke-3 di PAY Hj Siti Rohmah, Kumpulrejo, Kaliwungu.

4. Pengajian Pagi Ahad ke 4 di Ponpes Al Manar Sawah jati Krajan kulon, Kaliwungu.

Pengajian dimulai pukul 06.00-07.00

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ :

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

رَوَاهُ مُسْلِم عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Barang siapa menumpuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.(HR. Muslim dari Abu Hurairah)

 

| MDM (Mimbar Dakwah Muhammadiyah) Kaliwungu © 2009. All Rights Reserved | Template Style by My Blogger Tricks .com | Design by Brian Gardner | Back To Top |