Jumat, 27 Maret 2015

ADAB TIDUR DAN BANGUN TIDUR

0 komentar
ADAB TIDUR DAN BANGUN TIDUR

1. Berinstropeksi diri (muhasabah) sesaat sebelum tidur. Sangat dianjurkan sekali bagi setiap muslim bermuhasabah sesaat sebelum tidur, untuk megevaluasi segala perbuatan yang telah ia lakukan di siang hari. Lalu jika ia dapatkan perbuatannya baik maka hendaknya memuji pada Allah Ta’ala dan jika sebaliknya maka hendaknya segera memohon apunan-Nya, kembali dan bertaubat kepada-Nya.

2. Tidur dini, berdasarkan hadis dari Aisyah -RadliyAllahu ‘anha-: Bahwasannya Rasulullah -Shallalahu ‘alaihi wa sallam- tidur pada awal malam dan bangun pada penghujung malam, lalu beliau melakukan shalat ( Muttafaq ‘alaih)
3. Disunahkan berwudlu sebelum tidur, dan berbaring miring sebelah kanan.
Al-Bara’ bin ‘Azib -radliyAllahu ‘anhu- menuturkan : Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda : “Apa bila kamu akan tidur, maka berwudlulah sebagaimana wudlu untuk shalat, kemudian berbaring  mirilah sebelah kanan..” dan tidak mengapa berbaring sebelah kiri nantinya.

4. Disunahkan mengibaskan sprei tiga kali sebelum berbaring, berdasarkan hadis dari Abu Hurairah -radliyAllahu ‘anhu- bahwasannya Rasulullah -Shallallhu ‘alaihi wa sallam- bersabda : Apabila seseorang diantara kamu akan tidur pada tempat tidurnya, maka hendaklah mengibaskan kainnya pada tempat tidurnya itu terlebih dahulu, karena ia tdak tahu apa yang ada di atasnya...” di dalam satu riwayat dikatakan: “tiga kali”.(Muttafaq ‘Alaihi)

5. Makruh tidur tengkurap. Abu Dzar -radliyAllahu ‘anhu- menuturkan : Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah lewat melintasi aku, dikala itu aku sedang berbaring tengkurap. Maka Nabi membangunkanku dengan kakinya sambil bersabda : “wahai Junaidab (panggilan Abu Dzar), sesungguhnya berbaring seperti ini (tengkurap) adaah cara berbaringnya penghuni neraka”. (HR. Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh al-Albani)

6. Makruh tidur di atas dak terbuka, berdasarkan hadis yang bersumber dari ‘Ali bin Syaibah disebutkan bahwasannya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda : “Barangsiapa yang tidur malam di atas atap rumah yang tidak ada penutupnya maka hilanglah jamian darinya.” (HR. Al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad dan dinilai shahih oleh al-Albani).

7. Menutup pintu, jendela dan memadamkan api dan lampu sebelum tidur. Dari Jabir -radliyAllahu ‘anhu- diriwayatkan bahwa sesungguhnya Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda : “Padamkanlah lampu di malam hari apabila kamu akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana, dan tutuplah makanan dan minuman.” (Muttafaq ‘alaihi)
8. Membaca ayat Kursi, dua ayat terakhir dari surah al-Baqarah, surah al-Ikhlas dan al-Mu’awwidzatain (al-Falaq dan al-Nas), karena banyak hadis shahih yang mengganjurkan hal tersebut.

9. Membaca doa-doa dan dzikir yang keterangannya shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti :

اللَّهُمَّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ
Allahumma qinii ‘adzaabaka yauma tab’atsu ‘ibaadak

“Ya Allah peliharalah aku dari azab-Mu pada hari Engkau membangkitkan kembali segenap hamba-hamba-Mu”. Dibaca tiga kali (HR. Abu Daud dan dihasankan oleh al-Albani)
Dan membaca :
بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَ أَحْيَا
Bismika Allahumma amuutu wa ahyaa

“Dengan menyebut nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup”(HR. Al-Bukhari)

10. Apabila di saat tidur merasa kaget atau gelisah atau merasa ketakutan, maka disunahkan (diajurkan) berdoa, dengan doa

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَ شَرِّ عِبَادِهِ وَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ وَ أَنْ يَحْضُرُوْنِ

A’udzu bikalimaatillahit-taammaat min ghadlabihi wa syarri ‘ibaadihi wa min hamazaathisy-syayaathin wa an yahdluruun
“Aku berlindung dengan Kalimatullah yang sempurna dari murkaNya, kkejahatan hamba-hambaNya, dari gangguan setan dan kehadiran mereka padaku”. (HR. Abu Daud dan dihasankan oleh al-Albani)

11. Hendaknya apabila bangun tidur membaca :

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَ إِلَيْهِ النُّشُوْرُ

Alhamdulillahil-ladzi ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaihin-nusyuur
“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikanNya, dan kepadaNya-lah kami dikembalikan”. (HR. Al-Bukhari). Wallahu a’lam.
Adab-adab  ini diambil dari buku Etika Seorang Muslim, Departemen Ilmiah Darul Wathan, Jakarta : Dar al-Haq, 2005, Tarjamah dari Adab al-Muslim fi al-Yaum wa al-Lailah oleh : Musthafa Aini, Lc





Read More ->>

SHIDIQ

0 komentar
SHIDIQ

Shidiq (ash-shidqu) artinya benar atau jujur, lawan dari dusta atau bohong (al-kazib). Seorang Muslim dituntut selalu berada dalam keadaan benar lahir dan batin. Benar hati (shidq al-qalb), benar perkataan (shidq al-hadits) dan benar perbuatan (shidq al-‘amal). Antara hati dan perkataan harus sama, tidak boleh berbeda, apalagi antara perkataan dan perbuatan.

Benar hati, apabila hati dihiasi dengan iman kepada Allah SWT dan bersih dari segala penyakit hati. Benar perkataan, apabila semua yang diucapkan adalah kebenaran bukan kebatilan. Benar perbuatan, apabila semua yang dilakukan sesuai dengan syari’at Islam.

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan setiap Muslim untuk selalu shidiq, karena shidiq membawa kepada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkan kesurga. Sebaliknya beliau melarang umatnya berbohong, karena kebohongan akan membawa kepada kejahatan dan kejahatan akan berakhir di neraka. Beliau bersabda:

“Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaika membawa ke surga. Seseorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran akan ditulis Allah sebagai seorang yang jujur (shidiq), dan jauhilah sifat bohong, karena kebohongan membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa ke neraka. Orang yang selalu berbohong dan mencari-cari kebohongan akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong (kadzdzab).” (H.R. al-Bukhari)

Seseorang Muslim harus selalu bersikap benar, kapan, di mana dan kepada siapapun. Kalau diperinci paling kurang ada lima macam bentuk shidiq:

1.      Benar perkataan (shidq al-Hadits)
Dalam keadaan apapun seorang Muslim akan selalu berkata yang benar, baik dalam menyampaikan informasi, menjawab pertanyaan, melarang dan memerintah ataupun yang lainya. Orang yang selalu berkata benar akan dikasihi oleh Allah dan dipercaya oleh masyarakat. Sebaliknya orang yang berdusta apalagi suka dusta, masyarakat tidak akan mempercayainya. Peribahasa mengatakan “Sekali lacung keujian seumur hidup orang tidak akan percaya.” Kalau sudah demikian sulit bagi dia untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.

Berkata bohong termasuk salah satu sifat orang munafik sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu: Apabila berkata dusta, bila berjanji mengingkari, bila dipercaya khianat.” (Muttafaq ‘Alaih).
Shidq al-hadits adalah bentuk yang peling popular dan paling mudah kelihatan.

2.      Benar pergaulan
Seorang Muslim akan selalu bermu’amalah dengan benar, tidak menipu, tidak khianat dan tidak memalsu, sekalipun kepada non Muslim. Orang yang shidiq dalam muamalah jauh dari sifat sombong dan riya’. Kalau melakukan sesuatu dia lakukan karena Allah. Dia tidak mengharapkan balas budi orang lain. Dia akan selalu bersikap benar dengan siapapun, tanpa memandag kekayaan, kekuasaan atau status lainnya. Barang siapa yang selalu bersikap shidiq dalam mu’amalah maka dia kan menjadi kepercayaan masyarakat. Siapapun ingin bermuamalah dengannya.

3.      Benar kemauan. (shidq al-‘Azam)
Sebelum memutuskan untuk melakukan sesuatu, seorang Muslim harus mempertimbangkan dan menilai terlebih dahulu apakah yang dilakukan itu benar dan bermanfaat. Apabila yakin benar dan bermanfaat, dia akan melakukannya tanpa ragu-ragu, tidak akan terpengarug dengan suara kiri kanan yang mendukung atau mencelanya. Kalau dia menghiraukan semua komentar orang, dia tidak akan jadi melaksanakannya. Akan tetapi bukan berarti dia mengabaikan kritik, asalkan kritik tersebut memiliki dasar dan membangun.

4.      Benar janji (shidq al-wa’ad)
Apabila berjanji seorang Muslim akan menepatinya sekalipun dengan musuh ataupun anak kecil. Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Barang siapa yang berkata kepada anak kecil: “Mari, kemari! Saya beri korma ini.” Kemudian dia tidak memberinya, maka dia telah membohongi anak itu.” (H.R. Ahmad)

Ingkar janji juga termasuk salah satu sifat munafik sebagaimana yang telah disebutkan pada hadits sebelumnya.

Allah SWT menyukai orang-orang yang menepati janji. Dalam al-Qur’an disebutkan pujian Allah kepada Nabi Ismail –‘alaihis salam- yang menepati janji :
dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail di dalam al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seseorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang Rasul dan Nabi.” (QS. Maryam (19): 54).

‘Azam (keputusan hati) untuk melakukan suatu kebaikan dinilai sebagai janji, menepatinya disebut wafa’ (menepati janji) dan memungkirinya disebut kadzib (bohong). Dalam surah at-Taubah: 75-77 Allah menggambarkan bagaimana orang-orang munafik berjanji kalau mendapat rezeki dari Allah akan mensedekahkan (sebagiannya), tapi setelah mendapatkannya mereka kikir.

dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagaian karunia-Nya kepada kami, pasti kami akan bersedekah dan pastilah kami termasukorang-orang yang sholeh.” Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling danmereka memanglah orang-orag yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafika pada hati mereka sampai pada waktu mereka menemui Allah , karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. (at-Taubah (9): 75-77)

5.      Benar Kenyataan (shidq al-Hal)
Seorang Muslim akan menampilkan diri seperti keadaan yang sebenarnya. Dia tidak akan menipu kenyataan, tidak memakai baju kepalsuan, tidak mencari nama dan tidak pula mengada-ada. Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
Orang yag merasa kenyang dengan apa yang tidak diterimanya sama seperi orang yang memakai dua pakaian palsu.” (HR. Muslim).
Artinya orang yang berhias dengan bukan miliknya supaya kelihatan kaya sama seperti orang yang memakai dua kepribadian.

DR. H. Yunahar Ilyas, Lc. M.A.
Kuliah Akhlaq (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offser), 2007

Read More ->>

ADAB MAKAN DAN MINUM

0 komentar
Serial Adab :
ADAB MAKAN DAN MINUM

1. Berupaya untuk mencari makanan yang halal. Allah Subhanahu wata'ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu”. (Al-Baqarah: 172). Yang baik disini artinya adalah yang halal.

2. Hendaklah makan dan minum yang kita lakukan diniatkan agar bisa dapat beribadah kepada Allah, agar kita mendapat pahala dari makan dan minum itu.

3. Hendaknya mencuci tangan sebelum makan jika tangan kita kotor, dan begitu juga setelah makan untuk menghilangkan bekas makanan yang ada di tangan.

4. Hendaklah kita puas dan rela dengan makanan dan minuman yang ada, dan jangan sekali-kali mencelanya. Abu Hurairah –ra-menuturkan: 
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam sama sekali tidak pernah mencela makanan. Apabila suka sesuatu ia makan dan jika tidak, maka ia tinggalkan”. (Muttafaq’alaih).

5. Hendaknya jangan makan sambil bersandar atau dalam keadaan menyungkur.Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda; “Aku tidak makan sedangkan aku menyandar”. (HR. al-Bukhari). Dan di dalam hadits, Ibnu Umar Radhiallaahu anhu menuturkan: “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah melarang dua tempat makan, yaitu duduk di meja tempat minum khamar dan makan sambil menyungkur”. (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albani).

6. Tidak makan dan minum dengan menggunakan bejana terbuat dari emas dan perak. Di dalam hadits Hudzaifah dinyatakan di antaranya bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “... dan janganlah kamu minum dengan menggunakan bejana terbuat dari emas dan perak, dan jangan pula kamu makan dengan piring yang   terbuat darinya, karena keduanya untuk mereka (orang kafir) di dunia dan untuk kita di akhirat kelak”. (Muttafaq’alaih).

7.    Hendaknya memulai makanan dan minuman dengan membaca Bismillah dan diakhiri dengan Alhamdulillah.Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seorang diantara kamu makan, hendaklah menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta'ala dan jika lupa menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta'ala pada awalnya maka hendaknya mengatakan : Bismillahi awwalihi wa akhirihi”. (HR. Abu ). Adapun meng-akhirinya dengan Hamdalah, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah sangat meridhai seorang hamba yang apabila telah makan suatu makanan ia memuji-Nya dan apabila minum minuman ia pun memuji-Nya”. (HR. Muslim).

8. Hendaknya makan dengan tangan kanan dan dimulai dari yang ada di depanmu. Rasulllah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda Kepada Umar bin Salamah: “Wahai anak, sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah apa yang di depanmu. (Muttafaq’alaih).

9. Disunnatkan makan dengan tiga jari dan menjilati jari-jari itu sesudahnya. Diriwayatkan dari Ka`ab bin Malik dari ayahnya, ia menuturkan: “Adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam makan dengan tiga jari dan ia menjilatinya sebelum mengelapnya”. (HR. Muslim).

10. Disunnatkan mengambil makanan yang terjatuh dan membuang bagian yang kotor darinya lalu memakannya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila suapan makan seorang kamu jatuh hendaklah ia mengambilnya dan membuang bagian yang kotor, lalu makanlah ia dan jangan membiarkannya untuk syetan”. (HR. Muslim).

11. Tidak meniup makan yang masih panas atau bernafas di saat minum. Hadits Ibnu Abbas menuturkan “Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang bernafas pada bejana minuman atau meniupnya”. (HR. At-Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

12. Tidak berlebih-lebihan di dalam makan dan minum. Karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Tiada tempat yang yang lebih buruk yang dipenuhi oleh seseorang daripada perutnya, cukuplah bagi seseorang beberapa suap saja untuk menegakkan tulang punggungnya; jikapun terpaksa, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minu-mannya dan sepertiga lagi untuk bernafas”. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).

13. Jangan sekali-kali kita melakukan perbuatan yang orang lain bisa merasa jijik, seperti mengirapkan tangan di bejana, atau kita mendekatkan kepala kepada tempat makanan di saat makan, atau berbicara dengan nada-nada yang mengandung makna kotor dan menjijik-kan.

14. Jangan minum langsung dari bibir bejana, berdasarkan hadits Ibnu Abbas beliau berkata, “Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang minum dari bibir bejana wadah air.” (HR. Al Bukhari)
Wallahu a’lam bish shawab.



Read More ->>

BERDZIKIR DAN BERSYUKUR KEPADA ALLAH

0 komentar
BERDZIKIR DAN BERSYUKUR KEPADA ALLAH

 فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ 

Maka igatlah kepada Ku, niscaya Aku akan ingat kepadamu ,Bersyukurlah kepada    Ku  ,Dan janganlah kamu  ingkar kepada Ku “. ( QS. Al Baqarah : 152)

Dijelaskan dalam tafsir As-Sa’di karangan Syaikh Abdurrahman  bin Nashir as-Sa’di bahwa: Fadzkuruunii adzkurkum (Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu) Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk mengingat-Nya, dan menjanjikan baginya sebaik-baik balasan  yaitu bahwa Allah akan mengingatnya pula
Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. al-Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).

Dzikir kepada Allah yang paling istimewa adalah dzikir yang dilakukan dengan hati dan lisan yaitu dzikir yang menumbuhkan ma’rifat kepada Allah, kecintaan kepada Nya dan menghasilkan ganjaran yang banyak dari–Nya. Dzikir adalah puncaknya rasa syukur, oleh karena itu Allah memerintahkan hal itu secara khusus, kemudian memerintahkan untuk bersyukur secara umum seraya berfirman: Wasykuruuli (Dan bersyukurlah kepada Ku). Maksudnya bersyukurlah terhadap apa yang kami nikmatkan kepada kalian, dan Aku jauhkan kalian dari berbagai macam kesulitan.
Syukur itu dapat dilakukan dengan hati berupa pengakuan atas kenikmatan yang didapatkan, dan dengan lisan berupa dzikir dan pujian , serta dengan anggota badan berupa ketaatan kepada Allah serta kepatuhan terhadap perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Syukur itu menyebabkan kelanggengan nikmat yang telah didapatkan dan menambah kenikmatan yang belum didapatkan.

Dengan adanya perintah bersyukur setelah kenikmatan agama seperti ilmu dan penyucian akhlak serta taufik kepada pengamalan merupakan penjelasan bahwa hal itu adalah sebesar-besarnya kenikmatan, bahkan ia adalah kenikmatan yang sebenarnya yang akan selalu eksis bila yang lain lenyap.
Oleh karena itu, sudah sepantasnya bagi orang yang diberikan taufik kepada ilmu dan amal agar bersyukur kepada Allah atas semua itu, agar Allah menambahkan nikmat-Nya dan menghindarkan dirinya dari rasa bangga diri, sehinga ia senantiasa dalam kesyukuran kepada Allah.

Adapun kebalikan dari rasa syukur adalah kufur (pengingkaran). Olek karena itu Allah melarang pengingkaran tersebut dalam firman-Nya : Wa laa takfuruun (dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku)

   Maksud dari pengingkaran di sini adalah lawan dari syukur yaitu ingkar terhadap kenikmatan yang diberikan, menampiknya serta tidak bersyukur kapada-Nya.
Akhirnya, inti kandungan QS. Al Baqarah : 152 tersebut meliputi
· Perintah untuk mengingat Allah melalui dzikir
· Perintah untuk mensyukuri nikmat Allah
· Larangan kufur nikmat
Pejelasnya sbb:
Pertama, Dzikir. Dzikir merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah yaitu dengan mengingat Allah dalam keadaan apapun.
Dzikir dapat dilakukan dengan lisan seperti mengucapkan kalimah-kalimah thayyibah, membaca Dzikir pagi dan petang setiap harinya, Membaca Al Qur’an, minimal setelah shalat, dan dzikir-dziki lain yang telah dicontohkan oleh Raswulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diamalkan.
Dzikir juga dapat dilakukan dengan melakukan ketaatan-ketaatan dengan anggota badan, seperti shalat, baik shalat fardlu yang lima, maupun shalat-shalat sunah seperti, shalat rawatib, tahajud, shalat witir dan juga shalat dluha.
Kedua, Syukur. Apabila kita mendapakan kenikmatan-kenikmatan dari Allah maka kita harus:
¨ Mengakui dalam hati bahwa seluruh nikmat yang diterima datang hanya dari Allah
¨ Mengucapkan tahmid
(Alhandulillah) dari lisan
¨ Berterimakasih kepada orang yang menjadi lantaran datangnya nikmat
¨ Menggunakan nikmat yang telah diberikan untuk menegakkan ketaatan kepada Allah
¨ Menampakkan bekas (atsar) nikmat yang telah diberikan.
Adapun contoh kesyukuran atas nikmat yang diterima adalah sebagai berikut:
Ketika mendapatkan nikmat yang berupa kesehatan, maka cara mensyukurinya menggunakan nikmat tersebut dengan sebaik-baiknya untuk menjalankan ketaatan kepada Allah, mencari rizki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, untuk menuntut ilmu dan menghindarkan diri dari perbuatan yang dilarang Allah.
Ketika mendapatkan nikmat yang berupa harta benda, maka cara mensyukurinya mengguakan harta tersebut dengan sebaik-baiknya unuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang bermanfaat, berinfak, bersedekah, menunaikan zakat, menjalankan ibadah haji ke baitullah jika mampu.Wallahu Ta’ala A’lam. Red(I)





Read More ->>

WASIAT TAQWA MENUJU KEMENANGAN SEJATI

0 komentar
WASIAT TAQWA
MENUJU KEMENANGAN SEJATI

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.(QS. Ali 'Imran: 102)


Orang yang bertaqwa adalah orang mendapatkan kemuliaan dengan derajat paling tinggi di hadapan Allah إن أكرمكم عندالله أتقاكم Orang yang taqwa adalah orang yang menang. Kemudian pertanyaannya adalah apakah kita betul-betul telah menjadi orang yang suci dan atau memperoleh derajat taqwa seperti harapan pada setiap doa kita? Wallahu a’lam, hanya Allah yang Maha Tahu. Mari kita berhitung dengan diri kita masing-masing. Kalau kita merasa belum maksimal dalam mengarungi kehidupan didunia ini, sehingga rasanya masih jauh dari kata suci, maka kita hanya bisa berharap semoga Allah masih memberi kesempatan untuk meningkatkan ketaqwaan kita dimanapun berada.

Adapun langkah-langkah terbaik yang bisa kita lakukan adalah berusaha memiliki sifat-sifat orang-orang taqwa sebagaimana disebutkan Allah Swt dalam kitab suci-Nya. Untuk itu marilah kita simak beberapa sifat orang taqwa  sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an surat Ali 'Imran ayat 133-134 :

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (١٣٣) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, ((133)) (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan ((134)).

Pertama, orang taqwa adalah orang yang bila bersalah atau berbuat dosa, segera menyadari kesalahan itu dan segera pula mohon ampunan kepada Allah. Kita bukan malaikat yang bisa patuh kepada Allah tanpa banyak godaan karena memang tidak memiliki nafsu. Kita juga bukan setan yang sombong, menuruti hawa nafsu sehingga selalu ingkar kepada Allah. Kita adalah manusia yang memiliki jiwa yang fa alhamahaa fujurahaa watawaahaa (memiliki potensi untuk berbuat baik sekaligus potensi untuk berbuat buruk). Maka qad aflaha man zakkaaha wa qad khaaba man dassaha sungguh beruntung orang yang selalu membersihkan jiwanya dan celaka orang yang selalu mengotori jiwanya dengan dosa-dosa. Setelah menghindar sekuat tenaga kadang kita juga tergelincir dalam perbuatan-perbuatan dosa. Mumpung masih hidup, nyawa masih dikandung badan, maka mari kita sadari kesalahan kita itu untuk kemudian memohon ampunan dari Allah yag Maha Pengampun.

Kedua, orang yang betaqwa adalah alladziina yunfiquuna fis sarraa-i waddharraa-i, suka berbagi dengan sesama dalam keadaan lapang maupun sempit. Sungguh suka berbagi itu akan membuat suasana hidup semakin rukun, semakin guyub. Menurut berbagai penelitian, tradisi saling memberi merupakan salah satu mekanisme perekat sosial yang sangat ampuh. Masalahnya bagaimana kita harus berbagi kalau kita sendiri  dalam keadaan sempit secara ekonomi? 

Sesempit  apapun keadaan yang sedang menimpa,   kalau kita mau jujur sesungguhnya kita  tetap harus banyak bersyukur.  Ada begitu banyak nikmat Allah yang masih melekat pada kita. Setidak-tidaknya   kita masih memiliki negeri yang merdeka dan aman. Kita jauh lebih nyaman dari kaum muslimin Palestina, Suriah, Irak dan Negara-negara muslim lainnya.  Sungguh keadaaan kita  jauh lebih aman  dari kaum muslimin Libya yang sampai saat ini masih dilanda perang saudara.  Bahkan kalaupun  secara ekonomi semua harta kita sudah habis, misalnya, kita tetap masih bisa berbagi dengan senyum yang kita miliki. Sabda Nabi Muhammad SAW, tabassumuka ila wajhi akhiika shadaqah (senyummu kepada saudaramu sesama muslim itu adalah shadaqah).

Ketiga, orang taqwa adalah kaazimiinal ghaiz, suka menahan amarah.  Manusia diciptakan Allah dengan segala variasinya. Ada lelaki, perempuan, ada perbedaan suku, bangsa, bahasa. Bahkan di antara dua saudara kembarpun pasti ada perbedaan-perbedaan. Dengan berbagai perbedaan itu kita diminta Allah untuk lita’aarafuu (saling berinteraksi, srawung).  Dengan demikian kalau  kadang-kadang  dalam pergaulan terjadi gesekan-gesekan maka itu sangat manusiawi. Dalam hal ini manusia yang paling mulia adalah yang paling taqwa yang salah satu cirinya adalah  kaazimiinal ghaiz, suka menahan marah.

Marah adalah sesuatu yang manusiawi tetapi kemarahan itu tidak boleh diumbar, dia harus dikelola. Kalau tidak, maka kemarahan berpotensi menjadi sumber penyakit baik penyakit jiwa berbentuk stress, hipertensi,  jantung, stroke, maupun penyakit sosial berbentuk konflik baik dalam bentuk perang kata-kata maupun perang senjata.

Keempat, orang taqwa itu ’aafiina ’aninnaas, suka memberi maaf.  Dalam al-Qur’an terdapat 33 kali penyebutan kata AFWUN yang semuanya dalam makna memberi maaf. Kalau seseorang bersalah dan dia meminta maaf maka itu adalah sesuatu yang wajar. Sesuatu yang lebih baik adalah suka meminta maaf  bila bersalah sekaligus suka memberi maaf bila ada orang lain yang meminta maaf.
Lawan dari afwun adalah dendam. Dendam artinya menyimpan permusuhan dalam hati sambil menunggu kesempatan untuk membalas. Seorang pendendam tidak mau memaafkan orang  lain. Pendendam,  bertentangan dengan sifat Allah yang ghafuurur rahiim, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan merugikan diri sendiri karena sangat menguras energi dalam rangka sebuah pembalasan yang tiada berujung.

Kelima, wallaahu yuhibbul muhsiniin. Sifat orang taqwa yang paling disukai Allah adalah ihsan. Dalam kehidupan sehari-hari kita kadang mendengar nasehat, ”kalau engkau baik padaku maka aku bisa lebih baik kepadamu. Tetapi kalau engkau jahat padaku maka aku bisa lebih jahat kepadamu.” Ajaran ini ternyata tidak sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad SAW. Nabi bersabda, ”Santunilah orang yang jahil kepadamu, maafkanlah orang yang menzalimi kamu, berilah orang yang kikir kepadamu, hubungkan silaturrahmi dengan orang yang memutuskan silaturrahmi kepadamu.
Kenapa kita tetap berbuat baik kepada orang yang ternyata tidak baik kepada kita? Karena kita berbuat baik, kepada siapapun, adalah ikhlas karena Allah, bukan karena mengharapkan balasan dari orang yang kita perlakukan baik itu. Inilah yang disebut ihsan, sifat orang taqwa yang paling disukai Allah.

Pertanyaan untuk muhasabah diri kita, sudahkah taqwa atau belum? masih adakah umur atau tidak? mari kita mengamalkan sifat-sifat orang-orang taqwa: bergegas memohon ampun bila berdosa, suka berbagi, suka menahan amarah, suka memaafkan dan suka berbuat ihsan.


Ditulis Oleh Drs. Mahli Zainuddin Tago,  M.Si.
(Sekretaris Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah)
disampaikan di Kaliwungu, Kendal, 30 Agustus 2011/01 Syawwal 1432

Diedit oleh: Khaerul Anwar
Read More ->>

Recent Comments

HADIRILAH KAJIAN RUTIN

1. Pengajian Pagi Ahad ke-1 dan ke-5 di Balai Dakwah Muhammadiyah Kaliwungu, Jln. Sekopek-Plantaran no.12, Kaliwungu, Kendal.

2. Pengajian Pagi Ahad ke 2 di PAY Putri Hj Rumiatun, Sarirejo, Kaliwungu(Belakang Koramil Kaliwungu).

3. Pengajian Pagi Ahad ke-3 di PAY Hj Siti Rohmah, Kumpulrejo, Kaliwungu.

4. Pengajian Pagi Ahad ke 4 di Ponpes Al Manar Sawah jati Krajan kulon, Kaliwungu.

Pengajian dimulai pukul 06.00-07.00

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ :

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

رَوَاهُ مُسْلِم عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Barang siapa menumpuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.(HR. Muslim dari Abu Hurairah)

 

| MDM (Mimbar Dakwah Muhammadiyah) Kaliwungu © 2009. All Rights Reserved | Template Style by My Blogger Tricks .com | Design by Brian Gardner | Back To Top |