Sabtu, 28 Maret 2015

AT-TAYAMMUN (BERKANAN)

0 komentar
AT-TAYAMMUN (BERKANAN)

كَانَتْ يَدُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ الْيُمْنَى لِطُهُوْرِهِ وَ طَعَامِهِ وَ كَانَتْ يَدَهُ الْيُسْرَى لِخَلاَئِهِ وَمَا كَانَ مِنْ أَذًى

Pada hadts ini Aisyah radliyallahu ‘anhaa menuturkan : “Tangan kanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dipergunakan dalam bersuci dan  makan. Adapun tangan kiri, diguakkan untuk membersihkan bekas kotoran dari buang hajat dan perkara-perkara yang najis (HR. Abu Dawud)
Imam an-Nawawi berkata:
“Disunahkan menggunakan tangan kanan dalam perkara-perkara yang mengandung segi kemuliaan, dan sebaliknya, menggunakan tangan kiri dalam perkara yang mengandug kejelekan”

Dalam hal apa sajakah kita menggunakan angan kanan atau mendahuklukan anggota tubuh sebelah kanan?

Pada kesemopata ini kita akan membahas hal tersebut berdasarkan hadits:
Read More ->>

ADAB DI MASJID

0 komentar
ADAB DI MASJID

1.      Berdo`a di saat pergi ke masjid. Berdasarkan hadits Ibnu Abbas -Radhiallaahu ‘anhu- beliau menyebutkan: Adalah Rasulullah -Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam- apabila ia keluar (rumah) pergi shalat (di masjid) berdo`a : "Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, dan cahaya pada lisanku, dan jadikanlah cahaya pada pendengaranku dan cahaya pada penglihatanku, dan jadikanlah cahaya dari belakangku, dan cahaya dari depanku, dan jadikanlah cahaya dari atasku dan cahaya dari bawahku. Ya Allah, anugerahilah aku cahaya". (Muttafaq'alaih).

2.       Berjalan menuju masjid untuk shalat dengan tenang dan khidmat. Rasulullah -Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam- telah bersabda: "Apabila shalat telah diiqamatkan, maka janganlah kamu datang menujunya dengan berlari, tetapi datanglah kepadanya dengan berjalan dan memperhatikan ketenangan. Maka apa (bagian shalat) yang kamu dapati ikutilah dan yang tertinggal sempurnakanlah. (Muttafaq'alaih).
Read More ->>

Jumat, 27 Maret 2015

ISLAM KAFFAH

0 komentar
ISLAM KAFFAH

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ [البقرة : 208]

Hai orang-rang yang beriman masuklah kedalam Islam secara totalitas (keseluruhan), dan janganah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Seungguhnya setan adalah musuh nyata bagi kalian.” (al-Baqarah : 208)

Dalam ayat ini Allah memerintahkan hamba  yang beriman kepada-Nya dan mempercayai Rasul-Nya untuk mengambil secara keseluruhan syariat Islam, mengamalkan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya semaksimal mungkin. (Tafsir Ibnu Katsir)

Syeikh As-Sa’di menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan perintahAllah kepada orang-orang beriman agar masuk kedalam Islam secara totalitas (keseluruhan), yaitu mengamalkan semua syariat Islam dan tidak meninggalkannya sedikit pun,dan hendaknya tidak menuhankan hawa nafsu dengan hanya mau melaksanakan syariat yang bersesuaian dengan hawa nafsunya. Namun apabila syariat tersebut tidak sesuai dengan hawa nafsunya, syariat tersebut ditinggalkan.
Read More ->>

ADAB TIDUR DAN BANGUN TIDUR

0 komentar
ADAB TIDUR DAN BANGUN TIDUR

1. Berinstropeksi diri (muhasabah) sesaat sebelum tidur. Sangat dianjurkan sekali bagi setiap muslim bermuhasabah sesaat sebelum tidur, untuk megevaluasi segala perbuatan yang telah ia lakukan di siang hari. Lalu jika ia dapatkan perbuatannya baik maka hendaknya memuji pada Allah Ta’ala dan jika sebaliknya maka hendaknya segera memohon apunan-Nya, kembali dan bertaubat kepada-Nya.

2. Tidur dini, berdasarkan hadis dari Aisyah -RadliyAllahu ‘anha-: Bahwasannya Rasulullah -Shallalahu ‘alaihi wa sallam- tidur pada awal malam dan bangun pada penghujung malam, lalu beliau melakukan shalat ( Muttafaq ‘alaih)
3. Disunahkan berwudlu sebelum tidur, dan berbaring miring sebelah kanan.
Al-Bara’ bin ‘Azib -radliyAllahu ‘anhu- menuturkan : Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda : “Apa bila kamu akan tidur, maka berwudlulah sebagaimana wudlu untuk shalat, kemudian berbaring  mirilah sebelah kanan..” dan tidak mengapa berbaring sebelah kiri nantinya.

4. Disunahkan mengibaskan sprei tiga kali sebelum berbaring, berdasarkan hadis dari Abu Hurairah -radliyAllahu ‘anhu- bahwasannya Rasulullah -Shallallhu ‘alaihi wa sallam- bersabda : Apabila seseorang diantara kamu akan tidur pada tempat tidurnya, maka hendaklah mengibaskan kainnya pada tempat tidurnya itu terlebih dahulu, karena ia tdak tahu apa yang ada di atasnya...” di dalam satu riwayat dikatakan: “tiga kali”.(Muttafaq ‘Alaihi)

5. Makruh tidur tengkurap. Abu Dzar -radliyAllahu ‘anhu- menuturkan : Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah lewat melintasi aku, dikala itu aku sedang berbaring tengkurap. Maka Nabi membangunkanku dengan kakinya sambil bersabda : “wahai Junaidab (panggilan Abu Dzar), sesungguhnya berbaring seperti ini (tengkurap) adaah cara berbaringnya penghuni neraka”. (HR. Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh al-Albani)

6. Makruh tidur di atas dak terbuka, berdasarkan hadis yang bersumber dari ‘Ali bin Syaibah disebutkan bahwasannya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda : “Barangsiapa yang tidur malam di atas atap rumah yang tidak ada penutupnya maka hilanglah jamian darinya.” (HR. Al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad dan dinilai shahih oleh al-Albani).

7. Menutup pintu, jendela dan memadamkan api dan lampu sebelum tidur. Dari Jabir -radliyAllahu ‘anhu- diriwayatkan bahwa sesungguhnya Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda : “Padamkanlah lampu di malam hari apabila kamu akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana, dan tutuplah makanan dan minuman.” (Muttafaq ‘alaihi)
8. Membaca ayat Kursi, dua ayat terakhir dari surah al-Baqarah, surah al-Ikhlas dan al-Mu’awwidzatain (al-Falaq dan al-Nas), karena banyak hadis shahih yang mengganjurkan hal tersebut.

9. Membaca doa-doa dan dzikir yang keterangannya shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti :

اللَّهُمَّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ
Allahumma qinii ‘adzaabaka yauma tab’atsu ‘ibaadak

“Ya Allah peliharalah aku dari azab-Mu pada hari Engkau membangkitkan kembali segenap hamba-hamba-Mu”. Dibaca tiga kali (HR. Abu Daud dan dihasankan oleh al-Albani)
Dan membaca :
بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَ أَحْيَا
Bismika Allahumma amuutu wa ahyaa

“Dengan menyebut nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup”(HR. Al-Bukhari)

10. Apabila di saat tidur merasa kaget atau gelisah atau merasa ketakutan, maka disunahkan (diajurkan) berdoa, dengan doa

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَ شَرِّ عِبَادِهِ وَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ وَ أَنْ يَحْضُرُوْنِ

A’udzu bikalimaatillahit-taammaat min ghadlabihi wa syarri ‘ibaadihi wa min hamazaathisy-syayaathin wa an yahdluruun
“Aku berlindung dengan Kalimatullah yang sempurna dari murkaNya, kkejahatan hamba-hambaNya, dari gangguan setan dan kehadiran mereka padaku”. (HR. Abu Daud dan dihasankan oleh al-Albani)

11. Hendaknya apabila bangun tidur membaca :

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَ إِلَيْهِ النُّشُوْرُ

Alhamdulillahil-ladzi ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaihin-nusyuur
“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikanNya, dan kepadaNya-lah kami dikembalikan”. (HR. Al-Bukhari). Wallahu a’lam.
Adab-adab  ini diambil dari buku Etika Seorang Muslim, Departemen Ilmiah Darul Wathan, Jakarta : Dar al-Haq, 2005, Tarjamah dari Adab al-Muslim fi al-Yaum wa al-Lailah oleh : Musthafa Aini, Lc





Read More ->>

SHIDIQ

0 komentar
SHIDIQ

Shidiq (ash-shidqu) artinya benar atau jujur, lawan dari dusta atau bohong (al-kazib). Seorang Muslim dituntut selalu berada dalam keadaan benar lahir dan batin. Benar hati (shidq al-qalb), benar perkataan (shidq al-hadits) dan benar perbuatan (shidq al-‘amal). Antara hati dan perkataan harus sama, tidak boleh berbeda, apalagi antara perkataan dan perbuatan.

Benar hati, apabila hati dihiasi dengan iman kepada Allah SWT dan bersih dari segala penyakit hati. Benar perkataan, apabila semua yang diucapkan adalah kebenaran bukan kebatilan. Benar perbuatan, apabila semua yang dilakukan sesuai dengan syari’at Islam.

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan setiap Muslim untuk selalu shidiq, karena shidiq membawa kepada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkan kesurga. Sebaliknya beliau melarang umatnya berbohong, karena kebohongan akan membawa kepada kejahatan dan kejahatan akan berakhir di neraka. Beliau bersabda:

“Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaika membawa ke surga. Seseorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran akan ditulis Allah sebagai seorang yang jujur (shidiq), dan jauhilah sifat bohong, karena kebohongan membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa ke neraka. Orang yang selalu berbohong dan mencari-cari kebohongan akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong (kadzdzab).” (H.R. al-Bukhari)

Seseorang Muslim harus selalu bersikap benar, kapan, di mana dan kepada siapapun. Kalau diperinci paling kurang ada lima macam bentuk shidiq:

1.      Benar perkataan (shidq al-Hadits)
Dalam keadaan apapun seorang Muslim akan selalu berkata yang benar, baik dalam menyampaikan informasi, menjawab pertanyaan, melarang dan memerintah ataupun yang lainya. Orang yang selalu berkata benar akan dikasihi oleh Allah dan dipercaya oleh masyarakat. Sebaliknya orang yang berdusta apalagi suka dusta, masyarakat tidak akan mempercayainya. Peribahasa mengatakan “Sekali lacung keujian seumur hidup orang tidak akan percaya.” Kalau sudah demikian sulit bagi dia untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.

Berkata bohong termasuk salah satu sifat orang munafik sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu: Apabila berkata dusta, bila berjanji mengingkari, bila dipercaya khianat.” (Muttafaq ‘Alaih).
Shidq al-hadits adalah bentuk yang peling popular dan paling mudah kelihatan.

2.      Benar pergaulan
Seorang Muslim akan selalu bermu’amalah dengan benar, tidak menipu, tidak khianat dan tidak memalsu, sekalipun kepada non Muslim. Orang yang shidiq dalam muamalah jauh dari sifat sombong dan riya’. Kalau melakukan sesuatu dia lakukan karena Allah. Dia tidak mengharapkan balas budi orang lain. Dia akan selalu bersikap benar dengan siapapun, tanpa memandag kekayaan, kekuasaan atau status lainnya. Barang siapa yang selalu bersikap shidiq dalam mu’amalah maka dia kan menjadi kepercayaan masyarakat. Siapapun ingin bermuamalah dengannya.

3.      Benar kemauan. (shidq al-‘Azam)
Sebelum memutuskan untuk melakukan sesuatu, seorang Muslim harus mempertimbangkan dan menilai terlebih dahulu apakah yang dilakukan itu benar dan bermanfaat. Apabila yakin benar dan bermanfaat, dia akan melakukannya tanpa ragu-ragu, tidak akan terpengarug dengan suara kiri kanan yang mendukung atau mencelanya. Kalau dia menghiraukan semua komentar orang, dia tidak akan jadi melaksanakannya. Akan tetapi bukan berarti dia mengabaikan kritik, asalkan kritik tersebut memiliki dasar dan membangun.

4.      Benar janji (shidq al-wa’ad)
Apabila berjanji seorang Muslim akan menepatinya sekalipun dengan musuh ataupun anak kecil. Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Barang siapa yang berkata kepada anak kecil: “Mari, kemari! Saya beri korma ini.” Kemudian dia tidak memberinya, maka dia telah membohongi anak itu.” (H.R. Ahmad)

Ingkar janji juga termasuk salah satu sifat munafik sebagaimana yang telah disebutkan pada hadits sebelumnya.

Allah SWT menyukai orang-orang yang menepati janji. Dalam al-Qur’an disebutkan pujian Allah kepada Nabi Ismail –‘alaihis salam- yang menepati janji :
dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail di dalam al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seseorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang Rasul dan Nabi.” (QS. Maryam (19): 54).

‘Azam (keputusan hati) untuk melakukan suatu kebaikan dinilai sebagai janji, menepatinya disebut wafa’ (menepati janji) dan memungkirinya disebut kadzib (bohong). Dalam surah at-Taubah: 75-77 Allah menggambarkan bagaimana orang-orang munafik berjanji kalau mendapat rezeki dari Allah akan mensedekahkan (sebagiannya), tapi setelah mendapatkannya mereka kikir.

dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagaian karunia-Nya kepada kami, pasti kami akan bersedekah dan pastilah kami termasukorang-orang yang sholeh.” Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling danmereka memanglah orang-orag yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafika pada hati mereka sampai pada waktu mereka menemui Allah , karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. (at-Taubah (9): 75-77)

5.      Benar Kenyataan (shidq al-Hal)
Seorang Muslim akan menampilkan diri seperti keadaan yang sebenarnya. Dia tidak akan menipu kenyataan, tidak memakai baju kepalsuan, tidak mencari nama dan tidak pula mengada-ada. Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
Orang yag merasa kenyang dengan apa yang tidak diterimanya sama seperi orang yang memakai dua pakaian palsu.” (HR. Muslim).
Artinya orang yang berhias dengan bukan miliknya supaya kelihatan kaya sama seperti orang yang memakai dua kepribadian.

DR. H. Yunahar Ilyas, Lc. M.A.
Kuliah Akhlaq (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offser), 2007

Read More ->>

Recent Comments

HADIRILAH KAJIAN RUTIN

1. Pengajian Pagi Ahad ke-1 dan ke-5 di Balai Dakwah Muhammadiyah Kaliwungu, Jln. Sekopek-Plantaran no.12, Kaliwungu, Kendal.

2. Pengajian Pagi Ahad ke 2 di PAY Putri Hj Rumiatun, Sarirejo, Kaliwungu(Belakang Koramil Kaliwungu).

3. Pengajian Pagi Ahad ke-3 di PAY Hj Siti Rohmah, Kumpulrejo, Kaliwungu.

4. Pengajian Pagi Ahad ke 4 di Ponpes Al Manar Sawah jati Krajan kulon, Kaliwungu.

Pengajian dimulai pukul 06.00-07.00

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ :

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

رَوَاهُ مُسْلِم عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Barang siapa menumpuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.(HR. Muslim dari Abu Hurairah)

 

| MDM (Mimbar Dakwah Muhammadiyah) Kaliwungu © 2009. All Rights Reserved | Template Style by My Blogger Tricks .com | Design by Brian Gardner | Back To Top |