Jumat, 27 Maret 2015

ADAB MAKAN DAN MINUM

0 komentar
Serial Adab :
ADAB MAKAN DAN MINUM

1. Berupaya untuk mencari makanan yang halal. Allah Subhanahu wata'ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu”. (Al-Baqarah: 172). Yang baik disini artinya adalah yang halal.

2. Hendaklah makan dan minum yang kita lakukan diniatkan agar bisa dapat beribadah kepada Allah, agar kita mendapat pahala dari makan dan minum itu.

3. Hendaknya mencuci tangan sebelum makan jika tangan kita kotor, dan begitu juga setelah makan untuk menghilangkan bekas makanan yang ada di tangan.

4. Hendaklah kita puas dan rela dengan makanan dan minuman yang ada, dan jangan sekali-kali mencelanya. Abu Hurairah –ra-menuturkan: 
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam sama sekali tidak pernah mencela makanan. Apabila suka sesuatu ia makan dan jika tidak, maka ia tinggalkan”. (Muttafaq’alaih).

5. Hendaknya jangan makan sambil bersandar atau dalam keadaan menyungkur.Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda; “Aku tidak makan sedangkan aku menyandar”. (HR. al-Bukhari). Dan di dalam hadits, Ibnu Umar Radhiallaahu anhu menuturkan: “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah melarang dua tempat makan, yaitu duduk di meja tempat minum khamar dan makan sambil menyungkur”. (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albani).

6. Tidak makan dan minum dengan menggunakan bejana terbuat dari emas dan perak. Di dalam hadits Hudzaifah dinyatakan di antaranya bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “... dan janganlah kamu minum dengan menggunakan bejana terbuat dari emas dan perak, dan jangan pula kamu makan dengan piring yang   terbuat darinya, karena keduanya untuk mereka (orang kafir) di dunia dan untuk kita di akhirat kelak”. (Muttafaq’alaih).

7.    Hendaknya memulai makanan dan minuman dengan membaca Bismillah dan diakhiri dengan Alhamdulillah.Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seorang diantara kamu makan, hendaklah menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta'ala dan jika lupa menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta'ala pada awalnya maka hendaknya mengatakan : Bismillahi awwalihi wa akhirihi”. (HR. Abu ). Adapun meng-akhirinya dengan Hamdalah, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah sangat meridhai seorang hamba yang apabila telah makan suatu makanan ia memuji-Nya dan apabila minum minuman ia pun memuji-Nya”. (HR. Muslim).

8. Hendaknya makan dengan tangan kanan dan dimulai dari yang ada di depanmu. Rasulllah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda Kepada Umar bin Salamah: “Wahai anak, sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah apa yang di depanmu. (Muttafaq’alaih).

9. Disunnatkan makan dengan tiga jari dan menjilati jari-jari itu sesudahnya. Diriwayatkan dari Ka`ab bin Malik dari ayahnya, ia menuturkan: “Adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam makan dengan tiga jari dan ia menjilatinya sebelum mengelapnya”. (HR. Muslim).

10. Disunnatkan mengambil makanan yang terjatuh dan membuang bagian yang kotor darinya lalu memakannya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila suapan makan seorang kamu jatuh hendaklah ia mengambilnya dan membuang bagian yang kotor, lalu makanlah ia dan jangan membiarkannya untuk syetan”. (HR. Muslim).

11. Tidak meniup makan yang masih panas atau bernafas di saat minum. Hadits Ibnu Abbas menuturkan “Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang bernafas pada bejana minuman atau meniupnya”. (HR. At-Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

12. Tidak berlebih-lebihan di dalam makan dan minum. Karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Tiada tempat yang yang lebih buruk yang dipenuhi oleh seseorang daripada perutnya, cukuplah bagi seseorang beberapa suap saja untuk menegakkan tulang punggungnya; jikapun terpaksa, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minu-mannya dan sepertiga lagi untuk bernafas”. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).

13. Jangan sekali-kali kita melakukan perbuatan yang orang lain bisa merasa jijik, seperti mengirapkan tangan di bejana, atau kita mendekatkan kepala kepada tempat makanan di saat makan, atau berbicara dengan nada-nada yang mengandung makna kotor dan menjijik-kan.

14. Jangan minum langsung dari bibir bejana, berdasarkan hadits Ibnu Abbas beliau berkata, “Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang minum dari bibir bejana wadah air.” (HR. Al Bukhari)
Wallahu a’lam bish shawab.



Read More ->>

BERDZIKIR DAN BERSYUKUR KEPADA ALLAH

0 komentar
BERDZIKIR DAN BERSYUKUR KEPADA ALLAH

 فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ 

Maka igatlah kepada Ku, niscaya Aku akan ingat kepadamu ,Bersyukurlah kepada    Ku  ,Dan janganlah kamu  ingkar kepada Ku “. ( QS. Al Baqarah : 152)

Dijelaskan dalam tafsir As-Sa’di karangan Syaikh Abdurrahman  bin Nashir as-Sa’di bahwa: Fadzkuruunii adzkurkum (Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu) Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk mengingat-Nya, dan menjanjikan baginya sebaik-baik balasan  yaitu bahwa Allah akan mengingatnya pula
Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. al-Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).

Dzikir kepada Allah yang paling istimewa adalah dzikir yang dilakukan dengan hati dan lisan yaitu dzikir yang menumbuhkan ma’rifat kepada Allah, kecintaan kepada Nya dan menghasilkan ganjaran yang banyak dari–Nya. Dzikir adalah puncaknya rasa syukur, oleh karena itu Allah memerintahkan hal itu secara khusus, kemudian memerintahkan untuk bersyukur secara umum seraya berfirman: Wasykuruuli (Dan bersyukurlah kepada Ku). Maksudnya bersyukurlah terhadap apa yang kami nikmatkan kepada kalian, dan Aku jauhkan kalian dari berbagai macam kesulitan.
Syukur itu dapat dilakukan dengan hati berupa pengakuan atas kenikmatan yang didapatkan, dan dengan lisan berupa dzikir dan pujian , serta dengan anggota badan berupa ketaatan kepada Allah serta kepatuhan terhadap perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Syukur itu menyebabkan kelanggengan nikmat yang telah didapatkan dan menambah kenikmatan yang belum didapatkan.

Dengan adanya perintah bersyukur setelah kenikmatan agama seperti ilmu dan penyucian akhlak serta taufik kepada pengamalan merupakan penjelasan bahwa hal itu adalah sebesar-besarnya kenikmatan, bahkan ia adalah kenikmatan yang sebenarnya yang akan selalu eksis bila yang lain lenyap.
Oleh karena itu, sudah sepantasnya bagi orang yang diberikan taufik kepada ilmu dan amal agar bersyukur kepada Allah atas semua itu, agar Allah menambahkan nikmat-Nya dan menghindarkan dirinya dari rasa bangga diri, sehinga ia senantiasa dalam kesyukuran kepada Allah.

Adapun kebalikan dari rasa syukur adalah kufur (pengingkaran). Olek karena itu Allah melarang pengingkaran tersebut dalam firman-Nya : Wa laa takfuruun (dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku)

   Maksud dari pengingkaran di sini adalah lawan dari syukur yaitu ingkar terhadap kenikmatan yang diberikan, menampiknya serta tidak bersyukur kapada-Nya.
Akhirnya, inti kandungan QS. Al Baqarah : 152 tersebut meliputi
· Perintah untuk mengingat Allah melalui dzikir
· Perintah untuk mensyukuri nikmat Allah
· Larangan kufur nikmat
Pejelasnya sbb:
Pertama, Dzikir. Dzikir merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah yaitu dengan mengingat Allah dalam keadaan apapun.
Dzikir dapat dilakukan dengan lisan seperti mengucapkan kalimah-kalimah thayyibah, membaca Dzikir pagi dan petang setiap harinya, Membaca Al Qur’an, minimal setelah shalat, dan dzikir-dziki lain yang telah dicontohkan oleh Raswulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diamalkan.
Dzikir juga dapat dilakukan dengan melakukan ketaatan-ketaatan dengan anggota badan, seperti shalat, baik shalat fardlu yang lima, maupun shalat-shalat sunah seperti, shalat rawatib, tahajud, shalat witir dan juga shalat dluha.
Kedua, Syukur. Apabila kita mendapakan kenikmatan-kenikmatan dari Allah maka kita harus:
¨ Mengakui dalam hati bahwa seluruh nikmat yang diterima datang hanya dari Allah
¨ Mengucapkan tahmid
(Alhandulillah) dari lisan
¨ Berterimakasih kepada orang yang menjadi lantaran datangnya nikmat
¨ Menggunakan nikmat yang telah diberikan untuk menegakkan ketaatan kepada Allah
¨ Menampakkan bekas (atsar) nikmat yang telah diberikan.
Adapun contoh kesyukuran atas nikmat yang diterima adalah sebagai berikut:
Ketika mendapatkan nikmat yang berupa kesehatan, maka cara mensyukurinya menggunakan nikmat tersebut dengan sebaik-baiknya untuk menjalankan ketaatan kepada Allah, mencari rizki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, untuk menuntut ilmu dan menghindarkan diri dari perbuatan yang dilarang Allah.
Ketika mendapatkan nikmat yang berupa harta benda, maka cara mensyukurinya mengguakan harta tersebut dengan sebaik-baiknya unuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang bermanfaat, berinfak, bersedekah, menunaikan zakat, menjalankan ibadah haji ke baitullah jika mampu.Wallahu Ta’ala A’lam. Red(I)





Read More ->>

WASIAT TAQWA MENUJU KEMENANGAN SEJATI

0 komentar
WASIAT TAQWA
MENUJU KEMENANGAN SEJATI

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.(QS. Ali 'Imran: 102)


Orang yang bertaqwa adalah orang mendapatkan kemuliaan dengan derajat paling tinggi di hadapan Allah إن أكرمكم عندالله أتقاكم Orang yang taqwa adalah orang yang menang. Kemudian pertanyaannya adalah apakah kita betul-betul telah menjadi orang yang suci dan atau memperoleh derajat taqwa seperti harapan pada setiap doa kita? Wallahu a’lam, hanya Allah yang Maha Tahu. Mari kita berhitung dengan diri kita masing-masing. Kalau kita merasa belum maksimal dalam mengarungi kehidupan didunia ini, sehingga rasanya masih jauh dari kata suci, maka kita hanya bisa berharap semoga Allah masih memberi kesempatan untuk meningkatkan ketaqwaan kita dimanapun berada.

Adapun langkah-langkah terbaik yang bisa kita lakukan adalah berusaha memiliki sifat-sifat orang-orang taqwa sebagaimana disebutkan Allah Swt dalam kitab suci-Nya. Untuk itu marilah kita simak beberapa sifat orang taqwa  sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an surat Ali 'Imran ayat 133-134 :

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (١٣٣) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, ((133)) (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan ((134)).

Pertama, orang taqwa adalah orang yang bila bersalah atau berbuat dosa, segera menyadari kesalahan itu dan segera pula mohon ampunan kepada Allah. Kita bukan malaikat yang bisa patuh kepada Allah tanpa banyak godaan karena memang tidak memiliki nafsu. Kita juga bukan setan yang sombong, menuruti hawa nafsu sehingga selalu ingkar kepada Allah. Kita adalah manusia yang memiliki jiwa yang fa alhamahaa fujurahaa watawaahaa (memiliki potensi untuk berbuat baik sekaligus potensi untuk berbuat buruk). Maka qad aflaha man zakkaaha wa qad khaaba man dassaha sungguh beruntung orang yang selalu membersihkan jiwanya dan celaka orang yang selalu mengotori jiwanya dengan dosa-dosa. Setelah menghindar sekuat tenaga kadang kita juga tergelincir dalam perbuatan-perbuatan dosa. Mumpung masih hidup, nyawa masih dikandung badan, maka mari kita sadari kesalahan kita itu untuk kemudian memohon ampunan dari Allah yag Maha Pengampun.

Kedua, orang yang betaqwa adalah alladziina yunfiquuna fis sarraa-i waddharraa-i, suka berbagi dengan sesama dalam keadaan lapang maupun sempit. Sungguh suka berbagi itu akan membuat suasana hidup semakin rukun, semakin guyub. Menurut berbagai penelitian, tradisi saling memberi merupakan salah satu mekanisme perekat sosial yang sangat ampuh. Masalahnya bagaimana kita harus berbagi kalau kita sendiri  dalam keadaan sempit secara ekonomi? 

Sesempit  apapun keadaan yang sedang menimpa,   kalau kita mau jujur sesungguhnya kita  tetap harus banyak bersyukur.  Ada begitu banyak nikmat Allah yang masih melekat pada kita. Setidak-tidaknya   kita masih memiliki negeri yang merdeka dan aman. Kita jauh lebih nyaman dari kaum muslimin Palestina, Suriah, Irak dan Negara-negara muslim lainnya.  Sungguh keadaaan kita  jauh lebih aman  dari kaum muslimin Libya yang sampai saat ini masih dilanda perang saudara.  Bahkan kalaupun  secara ekonomi semua harta kita sudah habis, misalnya, kita tetap masih bisa berbagi dengan senyum yang kita miliki. Sabda Nabi Muhammad SAW, tabassumuka ila wajhi akhiika shadaqah (senyummu kepada saudaramu sesama muslim itu adalah shadaqah).

Ketiga, orang taqwa adalah kaazimiinal ghaiz, suka menahan amarah.  Manusia diciptakan Allah dengan segala variasinya. Ada lelaki, perempuan, ada perbedaan suku, bangsa, bahasa. Bahkan di antara dua saudara kembarpun pasti ada perbedaan-perbedaan. Dengan berbagai perbedaan itu kita diminta Allah untuk lita’aarafuu (saling berinteraksi, srawung).  Dengan demikian kalau  kadang-kadang  dalam pergaulan terjadi gesekan-gesekan maka itu sangat manusiawi. Dalam hal ini manusia yang paling mulia adalah yang paling taqwa yang salah satu cirinya adalah  kaazimiinal ghaiz, suka menahan marah.

Marah adalah sesuatu yang manusiawi tetapi kemarahan itu tidak boleh diumbar, dia harus dikelola. Kalau tidak, maka kemarahan berpotensi menjadi sumber penyakit baik penyakit jiwa berbentuk stress, hipertensi,  jantung, stroke, maupun penyakit sosial berbentuk konflik baik dalam bentuk perang kata-kata maupun perang senjata.

Keempat, orang taqwa itu ’aafiina ’aninnaas, suka memberi maaf.  Dalam al-Qur’an terdapat 33 kali penyebutan kata AFWUN yang semuanya dalam makna memberi maaf. Kalau seseorang bersalah dan dia meminta maaf maka itu adalah sesuatu yang wajar. Sesuatu yang lebih baik adalah suka meminta maaf  bila bersalah sekaligus suka memberi maaf bila ada orang lain yang meminta maaf.
Lawan dari afwun adalah dendam. Dendam artinya menyimpan permusuhan dalam hati sambil menunggu kesempatan untuk membalas. Seorang pendendam tidak mau memaafkan orang  lain. Pendendam,  bertentangan dengan sifat Allah yang ghafuurur rahiim, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan merugikan diri sendiri karena sangat menguras energi dalam rangka sebuah pembalasan yang tiada berujung.

Kelima, wallaahu yuhibbul muhsiniin. Sifat orang taqwa yang paling disukai Allah adalah ihsan. Dalam kehidupan sehari-hari kita kadang mendengar nasehat, ”kalau engkau baik padaku maka aku bisa lebih baik kepadamu. Tetapi kalau engkau jahat padaku maka aku bisa lebih jahat kepadamu.” Ajaran ini ternyata tidak sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad SAW. Nabi bersabda, ”Santunilah orang yang jahil kepadamu, maafkanlah orang yang menzalimi kamu, berilah orang yang kikir kepadamu, hubungkan silaturrahmi dengan orang yang memutuskan silaturrahmi kepadamu.
Kenapa kita tetap berbuat baik kepada orang yang ternyata tidak baik kepada kita? Karena kita berbuat baik, kepada siapapun, adalah ikhlas karena Allah, bukan karena mengharapkan balasan dari orang yang kita perlakukan baik itu. Inilah yang disebut ihsan, sifat orang taqwa yang paling disukai Allah.

Pertanyaan untuk muhasabah diri kita, sudahkah taqwa atau belum? masih adakah umur atau tidak? mari kita mengamalkan sifat-sifat orang-orang taqwa: bergegas memohon ampun bila berdosa, suka berbagi, suka menahan amarah, suka memaafkan dan suka berbuat ihsan.


Ditulis Oleh Drs. Mahli Zainuddin Tago,  M.Si.
(Sekretaris Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah)
disampaikan di Kaliwungu, Kendal, 30 Agustus 2011/01 Syawwal 1432

Diedit oleh: Khaerul Anwar
Read More ->>

CINTA DAN KASIH SAYANG DALAM RUMAH TANGGA(4)

0 komentar
CINTA DAN KASIH SAYANG DALAM RUMAH TANGGA(4)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِى؟ قَالَ : أُمُّكَ . قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ : ثُمَّ أُمُّكَ . قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ :ثُمَّ أُمُّكَ . قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ : ثُمَّ أَبُوكَ .
Dari Abu Hurairah -radliyallahu ‘anhu- ia berkata: Datanglah seorang laki-laki kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- lalu bertanya: "Siapakah di antara manusia yang paling berhak menerima persahabatan baikku?" Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: "Ibumu." Lalu orang tersebut bertanya: "Kemudian siapa?" Beliau menjawab: "Ibumu." Lalu orang itu bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Kemudian orang itu bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Bapakmu.” (Muttafaq ‘Alaih)

Kalau ditanyakan, siapakah yang lebih berhak menerima balasan kebaikan dari anaknya? Dalam hadits tersebut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengucapkan bahwa orang yang paling berhak menerima kebaikkan dari anak adalah ibu, kemudian bapak. Yang demikian itu karena susah payah yang diderita ibu lebih besar dari bapak dalam pengasuhan anak.
Dalam ayat lain Allah menegaskan bahwa haram bagi anak mengucapkan kata-kata kasar, sekalipun hanya mengucapkan “ah”
“. . . jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan pada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membantah keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (al-Isra’:23)
Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah “Wahai Tuhanku sayangilah keduanya, karena mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (al-Isra’: 24)
Dalam hadits lain diungkapkan sebagai berikut:
عن عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرٍو ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَاسْتَأْذَنَهُ فِي الْجِهَادِ فَقَالَ أَحَىٌّ وَالِدَاكَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr -radliyallahu  ‘anhu-  ia berkata:
Datanglah seorang laki-laki kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, lalu memohon izin kepada Nabi untuk ikut berjihad. Lalu Nabi bertanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Ia menjawab: “Masih”. Kemudian Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Maka berjihadlah dengan berbakti kepada kedua orang tuamu.” (H.R. al-Bukhari)
Hadits di atas mengisyaratkan bahwa berbakti kepada orang tua lebih tinggi nilainya daripada berperang.
Kewajiban berbakti kepada kedua orang tua ditegaskan pula pasda surah an-Nisa’: 36
Dan sembahlah Allah  dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu . . .”

Pada ayat tersebut, perintah berbakti kepada kedua orang tua diletakkan sesudah larangan mempersekutukan Allah dengan selain-Nya. Ini menunjukkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua pahalanya sangat tinggi di bawah nilai mentauhidkan Allah Ta’ala, dan sebaliknya memusuhi kedua orang tua dosanya sangat besar, di bawah dosa berbuat syirik.
Insya Allah, apabila cinta dan kasih sayang antara suami dan istri, antara anak dan orang tua selalu terpelihara, maka tidak akan terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan dalam rumah tangga itu terjadi karena tidak terpeliharanya cinta dan kasih sayang.
Wallahu a’lam
Oleh: Ayiqien Humam   
Read More ->>

Cita dan Kasih Sayang dalam Rumah Tangga 3

0 komentar
Cita dan Kasih Sayang dalam Rumah Tangga 3

Pada ayat pertama (ar-Rum : 21) telah dijelaskan bahwa cinta dan kasih sayang, sebagai rahmat dari Allah SWT, merupakan faktor yang sangat besar pengaruhnya bagi terciptanya ketenangan dan ketentraman dalam rumah tangga, sehingga tidak terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Sedangkan kekerasan dalam rumah tangga merupakan faktor utama tumbuhnya ketidaktenangan dan ketidaktentraman, baik dalam rumah tangga maupun masyarakat maka dalam surah al-An’am : 140 Allah menegaskan sebagai berikut:

“Sungguh rugi mereka yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan mereka, tanpa pengetahuan, dan mengharamkan rizki yang dikaruniakan Allah kepada mereka dengan semata-mata membuat kebodohan terhadap Allah. Sungguh mereka telah sesat dan tidak mendapat petunjuk.” (al-An’am: 140)

Pada ayat sebelumnya, Allah menjelaskan bahwa syetan-syetan telah menjerumuskan kaum musyrikin sehingga merasa indah jika telah membunuh anak-anak mereka. Maka keadaan rumah tangga mereka menjadi kacau balau, tidak tenang dan tidak tentram. Mereka mengharamkan segala  yang dihalalkan oleh Allah SWT,seperti menganiaya istri dan mebunuh anak-anak, karena kebodohan mereka atau karena khawatir miskin. Untuk menghindari munculnya kekerasan dalam rumah tangga, maka harus ditanamkan dalam diri mereka rasa cinta dan kasih sayang dengan memberikan nasehat, pendidikan agama dan akhlak, sebagaimana ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketka ia memberi pelajaran kepadanya: “Wahai anakku janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah benar-benar kedzaliman yang besar.” (Luqman: 13)

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuannya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadan lemah dan bertambah lemah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada–Ku dan kepada kedua orangtuamu. Hanya kepada-Ku kembalimu.” (Luqman: 14)

Pada ayat sebelumnya dijelaskan, bahwa Allah SWT memberi hikmah kepada Luqman agar bersyukur kepada Allah, sebab orang yang bersyukur kepada-Nya pada hakikatnya bersyukur untuk dirinya sendiri, sedang yang tidak bersyukur kepada-Nya tidak akan diperhatikan Allah SWT.

Kemudian pada ayat ini (Luqman: 13-14) Allah SWT  menjelaskan bahwa Luqman telah melaksanakan perintah Allah, yaitu melarang mempersekutuan Allah, dan memerintahkan kepada anaknya untuk mentauhidkan Allah, yaitu hanya menyembah dan mengagungkan Allah semata. Apabila manusia telah benar-benar bertauhid, maka dengan sendirinya mereka akan bersatu, karena keyakinan mereka telah bersatu, tetapi apabila mereka mempersekutukan Allah dengan selain-Nya, maka manusia akan terpecah belah, demikian pula masyartakat. Untuk menciptakan rumah tangga yang penuh dengan rasa cinta dan kasih sayang, maka harus dibina lebih dahulu ketauhidan pada setiap anggota keluarga,dan juga keyakinan bahwa tidak ada tuhan yang pantas disembah selain Allah SWT. dengan demikian maka dengan sendirinya akan tubuh rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka. Yang tua menyayangi yang muda dan yang muda menghormati yang tua.

Maka pada ayat berikutya (Luqman: 14) Allah memerintahkan kepada manusia agar berbakti kepada kedua orang tua, sebab kedua orang tua itulah yang mengasuh dan mendidiknya. Berbakti kepada kedua orang tua adalah bagian dari ibadah, di samping sebagai balas budi dan rasa terima kasih kepada keduanya. Pada ayat tersebut ditegaskan bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah suatu kewajiban, terutama kepada ibunya sebab ibunya yang telah mengandungnya dengan susah payah yang terus bertambah. Dari bulan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya hingga melahirkannya sebagai puncak kesusahannya. Ketika itulah ibu berserah diri kepada Allah tentang keselamatannya dari anak yawng akan dilahirkannya sebab melahirkan anak sama dengan bertaruh nyawa, mati atau hidup. Perlu diketahui bahwa hingga kini jumlah kematian ibu karena melahirkan anak masih tinggi.


Sesudah melahirkan anak bukan berarti telah selesai urusannya, melainkan masih panjang dan banyak pekerjaan yang harus dikerjakan. Kedua orang tua masih harus mengasuh, mendidik dan membesarkannya. Wallahu Ta'ala A'lam

by. Asiqien Humam  
Read More ->>

Recent Comments

HADIRILAH KAJIAN RUTIN

1. Pengajian Pagi Ahad ke-1 dan ke-5 di Balai Dakwah Muhammadiyah Kaliwungu, Jln. Sekopek-Plantaran no.12, Kaliwungu, Kendal.

2. Pengajian Pagi Ahad ke 2 di PAY Putri Hj Rumiatun, Sarirejo, Kaliwungu(Belakang Koramil Kaliwungu).

3. Pengajian Pagi Ahad ke-3 di PAY Hj Siti Rohmah, Kumpulrejo, Kaliwungu.

4. Pengajian Pagi Ahad ke 4 di Ponpes Al Manar Sawah jati Krajan kulon, Kaliwungu.

Pengajian dimulai pukul 06.00-07.00

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ :

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

رَوَاهُ مُسْلِم عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Barang siapa menumpuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.(HR. Muslim dari Abu Hurairah)

 

| MDM (Mimbar Dakwah Muhammadiyah) Kaliwungu © 2009. All Rights Reserved | Template Style by My Blogger Tricks .com | Design by Brian Gardner | Back To Top |