Jumat, 27 Maret 2015

WASIAT TAQWA MENUJU KEMENANGAN SEJATI

0 komentar
WASIAT TAQWA
MENUJU KEMENANGAN SEJATI

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.(QS. Ali 'Imran: 102)


Orang yang bertaqwa adalah orang mendapatkan kemuliaan dengan derajat paling tinggi di hadapan Allah إن أكرمكم عندالله أتقاكم Orang yang taqwa adalah orang yang menang. Kemudian pertanyaannya adalah apakah kita betul-betul telah menjadi orang yang suci dan atau memperoleh derajat taqwa seperti harapan pada setiap doa kita? Wallahu a’lam, hanya Allah yang Maha Tahu. Mari kita berhitung dengan diri kita masing-masing. Kalau kita merasa belum maksimal dalam mengarungi kehidupan didunia ini, sehingga rasanya masih jauh dari kata suci, maka kita hanya bisa berharap semoga Allah masih memberi kesempatan untuk meningkatkan ketaqwaan kita dimanapun berada.

Adapun langkah-langkah terbaik yang bisa kita lakukan adalah berusaha memiliki sifat-sifat orang-orang taqwa sebagaimana disebutkan Allah Swt dalam kitab suci-Nya. Untuk itu marilah kita simak beberapa sifat orang taqwa  sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an surat Ali 'Imran ayat 133-134 :

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (١٣٣) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, ((133)) (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan ((134)).

Pertama, orang taqwa adalah orang yang bila bersalah atau berbuat dosa, segera menyadari kesalahan itu dan segera pula mohon ampunan kepada Allah. Kita bukan malaikat yang bisa patuh kepada Allah tanpa banyak godaan karena memang tidak memiliki nafsu. Kita juga bukan setan yang sombong, menuruti hawa nafsu sehingga selalu ingkar kepada Allah. Kita adalah manusia yang memiliki jiwa yang fa alhamahaa fujurahaa watawaahaa (memiliki potensi untuk berbuat baik sekaligus potensi untuk berbuat buruk). Maka qad aflaha man zakkaaha wa qad khaaba man dassaha sungguh beruntung orang yang selalu membersihkan jiwanya dan celaka orang yang selalu mengotori jiwanya dengan dosa-dosa. Setelah menghindar sekuat tenaga kadang kita juga tergelincir dalam perbuatan-perbuatan dosa. Mumpung masih hidup, nyawa masih dikandung badan, maka mari kita sadari kesalahan kita itu untuk kemudian memohon ampunan dari Allah yag Maha Pengampun.

Kedua, orang yang betaqwa adalah alladziina yunfiquuna fis sarraa-i waddharraa-i, suka berbagi dengan sesama dalam keadaan lapang maupun sempit. Sungguh suka berbagi itu akan membuat suasana hidup semakin rukun, semakin guyub. Menurut berbagai penelitian, tradisi saling memberi merupakan salah satu mekanisme perekat sosial yang sangat ampuh. Masalahnya bagaimana kita harus berbagi kalau kita sendiri  dalam keadaan sempit secara ekonomi? 

Sesempit  apapun keadaan yang sedang menimpa,   kalau kita mau jujur sesungguhnya kita  tetap harus banyak bersyukur.  Ada begitu banyak nikmat Allah yang masih melekat pada kita. Setidak-tidaknya   kita masih memiliki negeri yang merdeka dan aman. Kita jauh lebih nyaman dari kaum muslimin Palestina, Suriah, Irak dan Negara-negara muslim lainnya.  Sungguh keadaaan kita  jauh lebih aman  dari kaum muslimin Libya yang sampai saat ini masih dilanda perang saudara.  Bahkan kalaupun  secara ekonomi semua harta kita sudah habis, misalnya, kita tetap masih bisa berbagi dengan senyum yang kita miliki. Sabda Nabi Muhammad SAW, tabassumuka ila wajhi akhiika shadaqah (senyummu kepada saudaramu sesama muslim itu adalah shadaqah).

Ketiga, orang taqwa adalah kaazimiinal ghaiz, suka menahan amarah.  Manusia diciptakan Allah dengan segala variasinya. Ada lelaki, perempuan, ada perbedaan suku, bangsa, bahasa. Bahkan di antara dua saudara kembarpun pasti ada perbedaan-perbedaan. Dengan berbagai perbedaan itu kita diminta Allah untuk lita’aarafuu (saling berinteraksi, srawung).  Dengan demikian kalau  kadang-kadang  dalam pergaulan terjadi gesekan-gesekan maka itu sangat manusiawi. Dalam hal ini manusia yang paling mulia adalah yang paling taqwa yang salah satu cirinya adalah  kaazimiinal ghaiz, suka menahan marah.

Marah adalah sesuatu yang manusiawi tetapi kemarahan itu tidak boleh diumbar, dia harus dikelola. Kalau tidak, maka kemarahan berpotensi menjadi sumber penyakit baik penyakit jiwa berbentuk stress, hipertensi,  jantung, stroke, maupun penyakit sosial berbentuk konflik baik dalam bentuk perang kata-kata maupun perang senjata.

Keempat, orang taqwa itu ’aafiina ’aninnaas, suka memberi maaf.  Dalam al-Qur’an terdapat 33 kali penyebutan kata AFWUN yang semuanya dalam makna memberi maaf. Kalau seseorang bersalah dan dia meminta maaf maka itu adalah sesuatu yang wajar. Sesuatu yang lebih baik adalah suka meminta maaf  bila bersalah sekaligus suka memberi maaf bila ada orang lain yang meminta maaf.
Lawan dari afwun adalah dendam. Dendam artinya menyimpan permusuhan dalam hati sambil menunggu kesempatan untuk membalas. Seorang pendendam tidak mau memaafkan orang  lain. Pendendam,  bertentangan dengan sifat Allah yang ghafuurur rahiim, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan merugikan diri sendiri karena sangat menguras energi dalam rangka sebuah pembalasan yang tiada berujung.

Kelima, wallaahu yuhibbul muhsiniin. Sifat orang taqwa yang paling disukai Allah adalah ihsan. Dalam kehidupan sehari-hari kita kadang mendengar nasehat, ”kalau engkau baik padaku maka aku bisa lebih baik kepadamu. Tetapi kalau engkau jahat padaku maka aku bisa lebih jahat kepadamu.” Ajaran ini ternyata tidak sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad SAW. Nabi bersabda, ”Santunilah orang yang jahil kepadamu, maafkanlah orang yang menzalimi kamu, berilah orang yang kikir kepadamu, hubungkan silaturrahmi dengan orang yang memutuskan silaturrahmi kepadamu.
Kenapa kita tetap berbuat baik kepada orang yang ternyata tidak baik kepada kita? Karena kita berbuat baik, kepada siapapun, adalah ikhlas karena Allah, bukan karena mengharapkan balasan dari orang yang kita perlakukan baik itu. Inilah yang disebut ihsan, sifat orang taqwa yang paling disukai Allah.

Pertanyaan untuk muhasabah diri kita, sudahkah taqwa atau belum? masih adakah umur atau tidak? mari kita mengamalkan sifat-sifat orang-orang taqwa: bergegas memohon ampun bila berdosa, suka berbagi, suka menahan amarah, suka memaafkan dan suka berbuat ihsan.


Ditulis Oleh Drs. Mahli Zainuddin Tago,  M.Si.
(Sekretaris Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah)
disampaikan di Kaliwungu, Kendal, 30 Agustus 2011/01 Syawwal 1432

Diedit oleh: Khaerul Anwar
Read More ->>

CINTA DAN KASIH SAYANG DALAM RUMAH TANGGA(4)

0 komentar
CINTA DAN KASIH SAYANG DALAM RUMAH TANGGA(4)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِى؟ قَالَ : أُمُّكَ . قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ : ثُمَّ أُمُّكَ . قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ :ثُمَّ أُمُّكَ . قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ : ثُمَّ أَبُوكَ .
Dari Abu Hurairah -radliyallahu ‘anhu- ia berkata: Datanglah seorang laki-laki kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- lalu bertanya: "Siapakah di antara manusia yang paling berhak menerima persahabatan baikku?" Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: "Ibumu." Lalu orang tersebut bertanya: "Kemudian siapa?" Beliau menjawab: "Ibumu." Lalu orang itu bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Kemudian orang itu bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Bapakmu.” (Muttafaq ‘Alaih)

Kalau ditanyakan, siapakah yang lebih berhak menerima balasan kebaikan dari anaknya? Dalam hadits tersebut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengucapkan bahwa orang yang paling berhak menerima kebaikkan dari anak adalah ibu, kemudian bapak. Yang demikian itu karena susah payah yang diderita ibu lebih besar dari bapak dalam pengasuhan anak.
Dalam ayat lain Allah menegaskan bahwa haram bagi anak mengucapkan kata-kata kasar, sekalipun hanya mengucapkan “ah”
“. . . jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan pada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membantah keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (al-Isra’:23)
Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah “Wahai Tuhanku sayangilah keduanya, karena mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (al-Isra’: 24)
Dalam hadits lain diungkapkan sebagai berikut:
عن عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرٍو ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَاسْتَأْذَنَهُ فِي الْجِهَادِ فَقَالَ أَحَىٌّ وَالِدَاكَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr -radliyallahu  ‘anhu-  ia berkata:
Datanglah seorang laki-laki kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, lalu memohon izin kepada Nabi untuk ikut berjihad. Lalu Nabi bertanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Ia menjawab: “Masih”. Kemudian Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Maka berjihadlah dengan berbakti kepada kedua orang tuamu.” (H.R. al-Bukhari)
Hadits di atas mengisyaratkan bahwa berbakti kepada orang tua lebih tinggi nilainya daripada berperang.
Kewajiban berbakti kepada kedua orang tua ditegaskan pula pasda surah an-Nisa’: 36
Dan sembahlah Allah  dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu . . .”

Pada ayat tersebut, perintah berbakti kepada kedua orang tua diletakkan sesudah larangan mempersekutukan Allah dengan selain-Nya. Ini menunjukkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua pahalanya sangat tinggi di bawah nilai mentauhidkan Allah Ta’ala, dan sebaliknya memusuhi kedua orang tua dosanya sangat besar, di bawah dosa berbuat syirik.
Insya Allah, apabila cinta dan kasih sayang antara suami dan istri, antara anak dan orang tua selalu terpelihara, maka tidak akan terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan dalam rumah tangga itu terjadi karena tidak terpeliharanya cinta dan kasih sayang.
Wallahu a’lam
Oleh: Ayiqien Humam   
Read More ->>

Cita dan Kasih Sayang dalam Rumah Tangga 3

0 komentar
Cita dan Kasih Sayang dalam Rumah Tangga 3

Pada ayat pertama (ar-Rum : 21) telah dijelaskan bahwa cinta dan kasih sayang, sebagai rahmat dari Allah SWT, merupakan faktor yang sangat besar pengaruhnya bagi terciptanya ketenangan dan ketentraman dalam rumah tangga, sehingga tidak terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Sedangkan kekerasan dalam rumah tangga merupakan faktor utama tumbuhnya ketidaktenangan dan ketidaktentraman, baik dalam rumah tangga maupun masyarakat maka dalam surah al-An’am : 140 Allah menegaskan sebagai berikut:

“Sungguh rugi mereka yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan mereka, tanpa pengetahuan, dan mengharamkan rizki yang dikaruniakan Allah kepada mereka dengan semata-mata membuat kebodohan terhadap Allah. Sungguh mereka telah sesat dan tidak mendapat petunjuk.” (al-An’am: 140)

Pada ayat sebelumnya, Allah menjelaskan bahwa syetan-syetan telah menjerumuskan kaum musyrikin sehingga merasa indah jika telah membunuh anak-anak mereka. Maka keadaan rumah tangga mereka menjadi kacau balau, tidak tenang dan tidak tentram. Mereka mengharamkan segala  yang dihalalkan oleh Allah SWT,seperti menganiaya istri dan mebunuh anak-anak, karena kebodohan mereka atau karena khawatir miskin. Untuk menghindari munculnya kekerasan dalam rumah tangga, maka harus ditanamkan dalam diri mereka rasa cinta dan kasih sayang dengan memberikan nasehat, pendidikan agama dan akhlak, sebagaimana ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketka ia memberi pelajaran kepadanya: “Wahai anakku janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah benar-benar kedzaliman yang besar.” (Luqman: 13)

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuannya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadan lemah dan bertambah lemah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada–Ku dan kepada kedua orangtuamu. Hanya kepada-Ku kembalimu.” (Luqman: 14)

Pada ayat sebelumnya dijelaskan, bahwa Allah SWT memberi hikmah kepada Luqman agar bersyukur kepada Allah, sebab orang yang bersyukur kepada-Nya pada hakikatnya bersyukur untuk dirinya sendiri, sedang yang tidak bersyukur kepada-Nya tidak akan diperhatikan Allah SWT.

Kemudian pada ayat ini (Luqman: 13-14) Allah SWT  menjelaskan bahwa Luqman telah melaksanakan perintah Allah, yaitu melarang mempersekutuan Allah, dan memerintahkan kepada anaknya untuk mentauhidkan Allah, yaitu hanya menyembah dan mengagungkan Allah semata. Apabila manusia telah benar-benar bertauhid, maka dengan sendirinya mereka akan bersatu, karena keyakinan mereka telah bersatu, tetapi apabila mereka mempersekutukan Allah dengan selain-Nya, maka manusia akan terpecah belah, demikian pula masyartakat. Untuk menciptakan rumah tangga yang penuh dengan rasa cinta dan kasih sayang, maka harus dibina lebih dahulu ketauhidan pada setiap anggota keluarga,dan juga keyakinan bahwa tidak ada tuhan yang pantas disembah selain Allah SWT. dengan demikian maka dengan sendirinya akan tubuh rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka. Yang tua menyayangi yang muda dan yang muda menghormati yang tua.

Maka pada ayat berikutya (Luqman: 14) Allah memerintahkan kepada manusia agar berbakti kepada kedua orang tua, sebab kedua orang tua itulah yang mengasuh dan mendidiknya. Berbakti kepada kedua orang tua adalah bagian dari ibadah, di samping sebagai balas budi dan rasa terima kasih kepada keduanya. Pada ayat tersebut ditegaskan bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah suatu kewajiban, terutama kepada ibunya sebab ibunya yang telah mengandungnya dengan susah payah yang terus bertambah. Dari bulan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya hingga melahirkannya sebagai puncak kesusahannya. Ketika itulah ibu berserah diri kepada Allah tentang keselamatannya dari anak yawng akan dilahirkannya sebab melahirkan anak sama dengan bertaruh nyawa, mati atau hidup. Perlu diketahui bahwa hingga kini jumlah kematian ibu karena melahirkan anak masih tinggi.


Sesudah melahirkan anak bukan berarti telah selesai urusannya, melainkan masih panjang dan banyak pekerjaan yang harus dikerjakan. Kedua orang tua masih harus mengasuh, mendidik dan membesarkannya. Wallahu Ta'ala A'lam

by. Asiqien Humam  
Read More ->>

Cinta dan Kasih Sayang dalam Rumah Tangga 2

0 komentar
Cinta dan Kasih Sayang dalam Rumah Tangga 2

Tafsir ayat:
Ayat 21 surah ar-Rum (ayat pertama), tergolong ayat Makiyyah, yaitu ayat yang diturunkan sebelum Nabi Shallallahu alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Pada ayat sebelumnya (ayat 20 surah ar-Rum) telah dijelaskan tanda-tanda kebesaran Allah SWT, yaitu bahwa Dia memerintahkan kepada manusia agar memperhatikan keadaan yang ada di sekelilingnya, mulai dari diri sendiri, pergaulan di tengah masyarakat, keadaan lingkungan peredaran matahari, bumi bulan, siang dan malam.

Kemudian pada ayat ini (ayat 21 surah ar-Rum) Allah SWT menjelaskan bahwa diantara tanda-tanda kebesaran-Nya, Dia menciptakan isteri-isteri bagi kaum laki-laki dari diri mereka sendiri,artinya dari bahan yang sejenis artinya air mani. Tidak sepeti manusia pertama, yang diciptakan dari tanah, dan isterinya diambilkan dari bagian badannya.

Pada surah as-Sajdah ayat 7 dan 8, ditegaskan bahwa yang diciptakan langsung dari tanah hayalah manusia pertama, sedang keturunannya diciptakan dari air mani, yang nashnya sebagai berikut:
Artinya: “yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan, dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunan ari sari pati air yang hina (air mani)”. (as-Sajdah: 7-8).

Firman Allah yang artinya: Dia menciptakan isteri-iserimu dari diri kamu sendiri, adalah sebagai penegasan bahwa pada hakikatnya manusia adalah satu atau sama, sekalipun berbeda wana kulit dan kebangsaanya. Dalam surah an-Nisa ayat 1 ditegaskan pula bahwa manusia diciptakan dari jenis yang sama, karena nantinya akan dipasangkan satu dengan lainnya, dan tidakah mungkin manusia dipasangkan dengan binatang. Kemudian Allah SWT mempertemukan dan menjodohkan aki-laki dengan perempuan agar mereka menjadi tenang dan tentram. Maka sangatlah aneh bila laki-laki menikah dengan laki-laki, perempuan menikah dengan perempuan,padahal tujuan utama dalam pernikahan adalah untuk melestarikan dan meneruskan adanya keturunan, di samping terciptanya ketenangan dan ketentraman.

Untuk mendukung tujuan tersebut Allah menciptakan rasa saling mencintai antara suami dan isteri yang disebut mawaddah. Rasa cinta dan kasih sayang dapat tumbuh sesudah menikah. Karena itulah dianjurkan kepada keduanya untuk selalu bersolek, sekalipun berada di rumah, agar dapat menumbuhkan rasa cinta antara keduanya. Mawaddah dapat juga tumbuh sebelum menikah, dan yang demikian inilah yang biasa terjadi pada sebagian besar masyarakat. Mawaddah ini sangat erat kaitannya dengan kecantikan tubuh. Maka eksistensi rasa cinta, sangat tergantung pada usia manusia, sebab semakin tua manusi, semakin berkurang kecantikannya sehingga semakin kurang rasa cintanya. Artinya mawaddah itu tidak panjang umurnya. Maka apabila keduanya sudah menginjak umur terentu, misalnya umur 60 tahun atau 50 tahun rasa cinta sudah mulai menurun dan syahwat sudah mulai mengendur, ketika itulah rahmah (kasih sayang) sangat erat dan akan bertambah mesra diantara keduanya, hal ini harus terus dipupuk dan ditumbuhkan.
Rahmah (kasih sayang) sangat erat kaitannya dengan batin seseorang, semakin tinggi nilai batinnya maka semakin tnggi rasa kasih sayangnya. Sering kita lihat kakek-kakek dan nenek-nenek begitu mesra keidupannya dalam rumah tangga, karena kasih sayang yang sangat mendalam antara keduanya. Semua itu karena kebesaran Allah SWT yang luar biasa. Tanpa kebesaran Allah SWT tidaklah dapat ditemukan rasa cinta dan kasih sayang dalam rumah tangga, bahkan yang terjdadi malah kebalikannya, yaitu kekerasan dalam rumah tangga. Karena itulah rasa cinta dan kasih sayang yang dikaruniakan Allah wajib dijaga dan terus ditumbuh kembangkan.

Akhirnya ayat tersebut ditutup dengan frirman-Nya yang artinya sebagai berikut: “Sungguh pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaumyag berfikir.”

Allah SWT menyuruh kita berfikir ulang. Betapa sedihnya jika manusia tidak mempunyai rasa kasih sayang, betapa sedihnya jika tidak ada syari’ah yang mengatur kehidupan dalam masyarakat, niscaya akan timbul kekerasan, pertikaian, bahkan permusuhan yang mengakibatkan pembunuhan Allah menyuruh kita berfikir, terutama pada zaman yang telah dipengaruhi paham liberalisme, pluralisme dan faham-faham lainnya yang tiak sejalan dengan ajaran Islam.


Karena faham leberalisme inilah sudah mulai muncul pendapat, bahwa menikah itu tidaklah harus memenuhi syarat laki-laki dengan perempuan, melainkan diperbolehkan laki-laki dengan laki-laki peremuan dengan perempuan dan masih banyak pendapat-pendapat yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Wallahu a'lam
Oleh: Asyiqien Humam
Read More ->>

Kamis, 13 November 2014

CINTA DAN KASIH SAYANG DALAM RUMAH TANGGA (1)

0 komentar
CINTA DAN KASIH SAYANG DALAM RUMAH TANGGA (1)

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ [الروم : 21]

Dan di antara tanda-tanda (kekuasaan)-Nya ialah Dia menciptakan pasang-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh  pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda(kebsaran Allah) bagi kaum yang berfikir. (ar-Ruum [30]: 21)

قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ قَتَلُوا أَوْلَادَهُمْ سَفَهًا بِغَيْرِ عِلْمٍ وَحَرَّمُوا مَا رَزَقَهُمُ اللَّهُ افْتِرَاءً عَلَى اللَّهِ قَدْ ضَلُّوا وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ [الأنعام : 140]

Sungguh rugi mereka  yang membunuh anak-anaknya, karena kebodohan tanpa pengetahuan dan mengharamkan rizki yang dikaruniakan Allah dengan semata-mata membuat kebohongan terhadap Allah. Sungguh mereka telah sesat dan tidak mendapat petunjuk.(al-An’aam [6]:140)

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ [لقمان : 13]

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepadanya: "Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (Luqman [31]: 13)

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ  [لقمان : 14]

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang tuanya; ibunya telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah lemah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang tuamu, hanya kepada Aku kembalimu. (Luqman [31]: 14)

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا [النساء : 36]

Dan sSembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orangtuamu, kerabat dekat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (an-Nisa’ [4]: 36)

Tafsir Mufrodat:

Untuk mempermudah ayat-ayat tersebut di atas,maka perlu dijelaskan dengan singkat makna kata-kata yang memperlukan penjelasan:

1.    Litaskunuu: bentuk mudlarik (yang menunjukkan waktu sekarang) berasal dari kata sakana, bentuk madli (yang menunjuk waktu lampau), bentuk masdarnya sakiinah (ketenangan). Kata tersebut dengan berbagai derivasinya diulang sebanyak 69 kali, dengan makna yang berbedea-beda sesuai dengan konteksnya.

2.    Mawaddah: bentuk masdar, berasal dari kata wadda-yawaddu-wuddan-mawaddah, yang berarti ahabba (mencintai). Dalam al-Qur’an kata tersebut dengan berbagai derivasinya diulang sebanyak 29 kali, dengan makna yang berbedea-beda sesuai dengan konteksnya.

3.    Rahmah: bentu masdar, berasal dari kata rahima,-yarhamu, yang berarti raqqa (menyayangi, lemah lembut). Kata tersebut dengan berbagai derivasinya diulang sebanyak 142 kali, dengan makna yang berbedea-beda sesuai dengan konteksnya.

4.    Fishaal: bentuk masdar, berasal dari kata: fashola-yafshilu-fashlan-fisholan, yang berarti: faraqa (memisahkan, memutuskan, merinci, menyapih, keluar). Semua pengertian ini terdapat dalam al-Qur’an sebanyak 43 kali denga makna yang berbeda-beda sesuai dengan konteksnya, kata ini terdapat dalam surah al-Baqarah: 233 dengan arti menyapih, demikian pula dalam surah Luqman ayat 14.

Dinamakan menyapih, karena anak bayi itu berhenti dari minum air susu ibu dan berganti dengan makan-makanan lainnya.
Read More ->>

Recent Comments

HADIRILAH KAJIAN RUTIN

1. Pengajian Pagi Ahad ke-1 dan ke-5 di Balai Dakwah Muhammadiyah Kaliwungu, Jln. Sekopek-Plantaran no.12, Kaliwungu, Kendal.

2. Pengajian Pagi Ahad ke 2 di PAY Putri Hj Rumiatun, Sarirejo, Kaliwungu(Belakang Koramil Kaliwungu).

3. Pengajian Pagi Ahad ke-3 di PAY Hj Siti Rohmah, Kumpulrejo, Kaliwungu.

4. Pengajian Pagi Ahad ke 4 di Ponpes Al Manar Sawah jati Krajan kulon, Kaliwungu.

Pengajian dimulai pukul 06.00-07.00

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ :

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

رَوَاهُ مُسْلِم عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Barang siapa menumpuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.(HR. Muslim dari Abu Hurairah)

 

| MDM (Mimbar Dakwah Muhammadiyah) Kaliwungu © 2009. All Rights Reserved | Template Style by My Blogger Tricks .com | Design by Brian Gardner | Back To Top |